Baru Seumur Jagung, Proyek Swakelola Pekerjaan Jalan Desa Lowa Sudah Bergelombang

Investigasitimes.com, Koltim – Pada dasarnya pekerasan jalan di suatu wilayah seperti pedesaan diinginkan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama atau berumur panjang. Bukan sebaliknya, masih prematur sudah mengalami kerusakan.

Seperti yang terjadi pada pekerjaan perkerasan jalan Desa Lowa, Kecamatan Lambandia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim). Belum seumur jagung pasca dikerjakan tetapi kondisinya sudah bergelombang.

Padahal, proyek yang dikerjakan secara swakelola oleh Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perhubungan tersebut sudah dipadatkan menggunakan vibro roller.

Hasil pemantauan langsung menunjukkan bahwa, begitu banyak titik gelombang ditemui sepanjang jalan masuk menuju desa Lowa. Belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya gelombang jalan itu.

Namun secara umum, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kerusakan jalan perkerasan. Misalnya, beban kendaraan lebih besar dari yang diperkirakan, volume kendaraan (terutama untuk kendaraan berat) lebih tinggi dari yang diperkirakan, perkerasan yang terlalu tipis, bahan pembentuk perkerasan tidak memenuhi syarat, pelaksanaan pembangunan buruk, serta drainase yang buruk sehingga perkerasan sering tergenang air.

Kepala Desa (Kades) Lowa, Sitti Nurbaya, S.Pd mengakui apabila ada proyek perkerasan jalan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Koltim masuk ke wilayahnya.

Dikatakan, material berupa timbunan yang digunakan dalam pengerjaan perkerasan jalan diambil dari lokasi salah seorang warga dari Desa Mokupa.

“Kita yang tunjukkan disitu (lokasi pengambilan material Mokupa). Semuanya orang disini, seputaran Lambandia memang satu titik saja disitu,” kata Sitti Nurbaya ketika ditemui, dikediamannya, Sabtu (19/8/2023)

Sitti Nurbaya juga menyebutkan, dalam pengerjaan perkerasan jalan menggunakan grader dan vibro.

“Kalau musim hujan berhenti karena disana juga pengambilan materialnya agak susah jalan. Begitu juga dengan disini (Lowa),kalau hujan tidak bagus juga itu timbunan. Jadi saya lihat kalau hujan dihentikan dulu nanti dihampar lagi pada saat cuaca sudah membaik,” ujarnya.

Dimata Sitti Nurbaya, kualitas yang dikerjakan cukup bagus meskipun terlihat sedikit mengkhawatirkan ketika musim hujan tiba kelak. Apalagi katanya dilakukan penimbunan ulang (double) pada area yang dianggap kurang padat.

Soal gelombang,Sitti Nurbaya menambahkan bahwa kondisi jalan di desanya memang terdapat beberapa titik rendah dan meninggi.

Nurbaya pula mengaku tidak mengetahui berapa nominal anggaran yang digelontorkan untuk perkerasan jalan ini.

Swakelola pekerasan jalan bukan saja dilaksanakan di Desa Lowa, termasuk pula Desa Bou dan sebagian Desa Mandoke. Informasi yang beredar anggaran swakelola yang digunakan mencapai kurang lebih 3 Miliar.

Sampai berita ini diturunkan, pihak Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perhubungan Koltim belum berhasil dikonfirmasi.

Meski begitu, pada prinsipnya sistem perkerasan harus dirancang tahan-lama sehingga tidak mengalami kerusakan prematur akibat pengaruh lingkungan.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *