Pengusaha Serukan Gerakan Membeli Gula Lokal

INVESTIGASITIMES.com, Kab. Malang – Wacana akan munculnya Gula Kristal Rafinasi (GKR) yang harganya lebih murah dari gula lokal, sebanyak 65 ribu ton gula lokal belum terjual di gudang Pabrik Gula (PG) Krebet dan PG Kebon Agung

Menurut Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kebon Agung, Dwi Irianto, para pengepul tidak tertarik membeli gula lokal dengan alasan sebentar lagi akan beredar gula GKR dan gula impor.

“Gula lokal harganya lebih mahal daripada gula GKR dan gula mentah impor. Kalau gula lokal Rp10.800 per kilogram. Sedangkan gula impor sekitar Rp7.000 per kilogram. Itupun sudah diolah,” jelasnya, Selasa (26/1/2021).

Situasi ini mengundang respons tiga asosiasi pengusaha di Malang, dengan mencetuskan sebuah gerakan untuk membeli gula produksi petani lokal.

Tiga asosiasi tersebut adalah Apkrindo (Asosiasi Pengusaha Kafe dan Resto Indonesia), APPBI (Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia), dan PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia).

Ketua Apkrindo Malang, Indra Setiyadi menjelaskan, pada dasarnya tiga asosiasi ini merasa perihatin terhadap persoalan yang dihadapi para petani tebu.

“Sebagai bagian masyarakat, kami sangat prihatin melihat persoalan yang dialami para petani tebu. Untuk itu, bersama asosiasi-asosiasi kami mengajak masyarakat untuk mengutamakan membeli gula lokal. Meskipun harganya sedikit mahal, namun masih terjangkau,” ungkapnya, Jumat (29/1/2021).

Masih menurut Indra, gerakan ini bertujuan untuk membantu kesejahteraan petani tebu lokal. Ia juga optimistis, gagasan ini juga akan didukung oleh komunitas-komunitas di Malang Raya.

“Dengan menggunakan gula lokal, otomatis hukum pasar tidak berlaku. Gula yang tertimbun di PG dapat didistribusikan ke pedagang maupun pengecer, yang selama ini kesulitan untuk didistribusikan,” tandasnya. (Red)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *