Kabupaten Koltim – Jeritan petani akibat krisis air tak hanya menggema dari Desa Lalowura, tetapi juga terdengar kuat dari Desa Tokai, Kecamatan Poli-Polia.
Bahkan, kondisi di wilayah ini disebut lebih memprihatinkan. Para petani di tiga dusun yakni Dusun I, II, hingga Dusun III terpaksa tidak turun bersawah karena kesulitan mendapatkan air.
Sejumlah petani mengaku, bahwa kondisi krisis air telah terjadi sejak tahun lalu. Namun, kala itu mereka masih bisa bertahan dengan menggunakan mesin penyedot air atau Alkon.
Kini, situasinya semakin sulit. Tidak semua petani memiliki kemampuan untuk menggunakan Alkon, sementara akses air pun kian terbatas.
Untuk petani sawah Dusun I, ketergantungan terhadap air yaitu bersumber dari sungai Desa Pangi-pangi. Ketika debit air menurun, sawah-sawah warga langsung terdampak.
Sementara petani Dusun II hingga Dusun III sangat bergantung pada aliran air dari bendungan di Desa Andowengga.
Sayangnya, meski saluran irigasi telah tersedia, namun air tidak mampu menjangkau areal persawahan warga.
Akibatnya, sebagian petani beralih menggunakan sumur bor, namun solusi ini pun belum merata dan belum mampu menjawab kebutuhan seluruh petani.
Sebab sebagiannya lagi dari mereka tak sedikit pula yang memilih tidak menanam karena tidak mampu menjangkau sumber air dari sungai. Hal ini menyebabkan lahan sawah terbengkalai.
Para petani baik Dusun I, II hingga petani Dusun III berharap agar pemerintah daerah serta dari pihak DPRD Koltim sebagai perwakilan masyarakat dapat memikirkan nasib mereka agar tidak menyebabkan kerugian pada mereka kedepannya.
Khusus Dusun I, mereka berharap dapat dibangun bendungan mini sebagai solusi jangka panjang.
Sedangkan, petani Dusun II dan Dusun III berharap adanya bantuan sumur bor dan mesin penyedot air.
Krisis air ini yang dirasakan petani Desa Tokai sudah berdampak langsung pada kehidupan ekonomi mereka. Tanpa air, mereka tidak bisa menanam. Tanpa tanam, tidak ada panen. Dan tanpa panen, tidak ada yang bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Kalau sampai tidak turun tanam padi begini tentu sangat merugikan kami. Sekarang apa yang mau dijual kalau tidak turun sawah?,” keluh seorang petani.









