Kabupaten Koltim – Di tengah hamparan sawah yang semestinya hijau dan subur, pemandangan kontras justru terlihat di Desa Lalowura, Kecamatan Loea, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim).
Sejumlah petani dari Kelompok Tani (Poktan) Sipakainge kini menghadapi krisis air yang kian memprihatinkan, diperparah oleh musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang melanda.
Minimnya curah hujan berdampak langsung pada menurunnya debit air di Bendungan Lalowura.
Sumber pengairan utama itu kini tak lagi mampu memenuhi kebutuhan irigasi sawah di sejumlah wilayah termasuk Desa Lalowura.
Para petani mengaku sudah sekitar 15 hari terakhir sawah mereka tidak teraliri air. Akibatnya, tanaman padi yang masih dalam masa pertumbuhan mulai menguning sebelum waktunya, bahkan terancam gagal panen.
Hadirman, salah satu petani setempat, mengungkapkan bahwa usia padinya saat ini baru sekitar 40 hari, namun sudah menunjukkan gejala kekeringan akibat kekurangan air.
“Biasanya kami bisa panen sampai 40 atau 50 karung, tapi sekarang kemungkinan hanya 25 sampai 30 karung. Itu pun kalau masih bisa diselamatkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil panen yang menurun drastis kemungkinan hanya cukup untuk menutup biaya produksi seperti sewa alat garap (dompeng), pembelian bibit, pupuk, hingga pestisida.
Harapan untuk mendapatkan keuntungan pun semakin tipis di tengah kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
Ironisnya, lokasi persawahan mereka hanya berjarak sekitar 300 meter dari ujung saluran irigasi Bendungan Ladongi.
Para petani berharap adanya solusi konkret dari pemerintah berupa bantuan pipa berdiameter 8 inci untuk menyambungkan aliran air dari bendungan Ladongi tersebut ke lahan mereka.
“Kalau ada sambungan pipa dari Bendungan Ladongi ke sawah kami, mungkin kami tidak akan lagi khawatir kekurangan air, apalagi saat kemarau seperti sekarang ini,” harap Hadirman.
Ketua Poktan Sipakainge, Mansur, juga membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut beberapa petani di kelompoknya mengalami krisis air yang cukup parah, bahkan ada lahan seluas satu hektare yang sudah dua bulan tidak tersentuh aliran air.
Akibatnya, sawah menjadi kering, pertumbuhan padi terganggu, dan gulma tumbuh tak terkendali.
“Air hanya ada di pinggir sawah, bagian tengahnya benar-benar kering,” jelas Mansur.
Melihat kondisi tersebut, para petani berharap agar segera hadir solusi nyata bagi mereka. Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Koltim serta pihak DPRD Koltim yang membidangi pertanian dapat segera turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil yang mereka alami, sekaligus merumuskan langkah cepat dan tepat.
“Kami berharap dinas terkait dan DPRD bisa segera turun melihat kondisi kami. Jangan sampai masalah ini berlarut-larut tanpa solusi,” ungkap salah satu petani.
Selain persoalan air, petani juga dihadapkan pada kesulitan mendapatkan bahan bakar solar untuk operasional pertanian. Selama empat musim terakhir, mereka terpaksa membeli solar dari pengecer dengan harga yang jauh lebih mahal.
Jika harga resmi di SPBU sebesar Rp6.500 per liter, para petani harus membeli hingga Rp13.125 per liter. Dalam satu jeriken berisi 32 liter, mereka harus membayar sampai Rp420 ribu, atau dua kali lipat dari harga normal.
“Sudah empat musim kami mengalami kondisi seperti ini. Solar sulit didapat, air juga tidak ada. Kami benar-benar terjepit,” keluh Hadirman.
Terhadap kondisi ini, memang perlu solusi baik solusi jangka pendek dalam menghadapi krisis air saat ini, maupun langkah jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus berulang, terutama saat musim kemarau panjang akibat El Nino.
Tanpa adanya langkah nyata, bukan hanya hasil panen yang terancam, tetapi juga keberlangsungan hidup mereka sebagai tulang punggung ketahanan pangan daerah.









