Kabupaten Tuban – Pergantian Kapolres Tuban, Jawa Timur, bukan sekadar rotasi jabatan rutin. Langkah ini menjadi respons institusional atas dugaan praktik menyimpang yang mencuat ke ruang publik dan mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap Polri di Bumi Wali.
Setelah lebih dari sebulan dipimpin Pelaksana Tugas (Plt), pucuk pimpinan Polres Tuban akan resmi berganti. Serah terima jabatan dijadwalkan berlangsung di Markas Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur pada Senin, 12 Januari 2026, menandai berakhirnya kepemimpinan sementara pasca polemik.
Berdasarkan Surat Telegram Rahasia (TR) Kapolri Nomor ST/2781/B/XII/KEP./2025, Kapolres Tuban kini dipercayakan kepada AKBP Allaiddin. Sebelumnya, ia menjabat Kanit 4 Subdit V Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri—posisi yang kerap bersinggungan dengan perkara strategis dan sensitif di tingkat nasional.
Namun, pelantikan pejabat baru tak serta-merta menutup pertanyaan publik. Dugaan permintaan setoran serta pemotongan anggaran operasional di internal Polres Tuban yang menyeret nama mantan Kapolres, AKBP William Cornelis Tanasale, hingga kini masih menjadi sorotan. Dugaan tersebut dinilai bukan sekadar pelanggaran personal, melainkan indikasi problem tata kelola dan pengawasan internal.
Pencopotan AKBP William pada Desember 2025 oleh Kapolri menjadi sinyal kuat bahwa praktik semacam itu dianggap serius dan berdampak sistemik. Meski demikian, publik belum memperoleh penjelasan terbuka sejauh mana proses pemeriksaan internal berjalan, siapa saja pihak yang dimintai keterangan, serta apakah terdapat aliran dana yang terverifikasi.
Selama masa transisi, jabatan Kapolres Tuban dipegang Kombes Pol Agung Setyo Nugroho sebagai Plt untuk menjaga stabilitas operasional. Namun, kepemimpinan sementara dinilai belum menjawab tuntutan transparansi, terutama terkait hasil evaluasi internal pasca polemik.
“Jika tidak ada perubahan, sertijab akan dilaksanakan di Polda Jawa Timur pada hari Senin,” ujar Kasi Humas Polres Tuban, Iptu Siswanto, Sabtu (10/1/2026).
Deretan karangan bunga ucapan selamat yang mulai memenuhi halaman Mapolres Tuban sejak Sabtu siang menjadi kontras dengan tuntutan publik yang lebih substantif. Masyarakat tidak hanya menanti wajah baru di kursi Kapolres, tetapi juga kejelasan pertanggungjawaban atas dugaan pelanggaran yang mencederai integritas institusi.
Kini, AKBP Allaiddin berada di persimpangan krusial. Tantangannya bukan sekadar menjaga kamtibmas, melainkan membuka kembali simpul-simpul persoalan internal yang selama ini tertutup. Audit anggaran, pembenahan rantai komando, hingga penegakan disiplin tanpa kompromi menjadi ujian awal kepemimpinannya.
Pergantian Kapolres Tuban menjadi tolok ukur: apakah Polri benar-benar menempatkan akuntabilitas di atas solidaritas korps, atau sekadar mengganti figur tanpa menyentuh akar persoalan. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan seberapa jauh kepercayaan publik dapat dipulihkan.









