Perjuangan Sumiarsih, Siswi SMPN 2 Ladongi ke Panggung BTI Aceh: Dinas Pendidikan Koltim ‘Terpasung’ Efisiensi Anggaran, ‘Terkesan’ Efisiensi Nurani

Investigasitimes.com, Kabupaten Koltim – Nama Sumiarsih, siswi SMP Negeri 2 Ladongi, tiba-tiba mencuri perhatian publik. Di tengah semangatnya membawa nama Kolaka Timur ke panggung nasional lewat Program Bina Talenta Indonesia (BTI) di Aceh, dukungan dari pemerintah daerah Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) justru nihil.

Ironis dan menyakitkan. Saat seorang pelajar berprestasi berjuang mengharumkan nama daerah, instansi yang mestinya menjadi garda terdepan dalam mendukung pendidikan justru bersembunyi di balik tumpukan alasan ‘klasik’ yaitu “efesiensi anggaran”.

Kepala SMPN 2 Ladongi, Suristono S.Pd telah melakukan langkah yang seharusnya dilakukan, berkoordinasi langsung dengan Kepala Dinas Pendidikan.

Ia menyampaikan jika salah satu siswinya yang berasal dari keluarga tidak mampu akan berangkat mewakili Koltim di tingkat nasional.

“Saya sampaikan ke Pak Kadis, ini anak kita mau berangkat ke Aceh, tapi berasal dari keluarga kurang mampu. Walaupun pembiayaan ditanggung kementerian, apakah tidak bisa kita pikirkan, sekedar sedikit uang saku atau apa begitu. Setidak-tidaknya sebagai bentuk penghargaan kepada murid kita yang berprestasi,” ujarnya kepada wartawan,Kamis (6/11/2025)

Terkejutnya, jawaban yang diterima Suristono sangat jauh dari harapan. Kepala Dinas hanya bisa mengucap kalimat yang sudah terlalu sering terdengar yakni ‘kami minta maaf, karena efesiensi anggaran ‘.

“Pak Kadis bilang,betul sekali itu pak KS kami sudah memikirkan itu, tapi sekali lagi kami minta maaf karena dengan adanya efesiensi anggaran ini sehingga menyebabkan anggaran dinas terbatas,”kata kadis seperti ditirukan Suristono.

Lebih ironis lagi, Kadis menambahkan kalimat “andai-andai” yang justru memperlihatkan betapa ‘miskinnya’ keseriusan pemerintah dalam memajukan dunia pendidikan.

“Seandainya tidak ada efisiensi anggaran, Pak KS tak perlu datang ke dinasnya melapor. Saya sendiri yang akan datang ke rumah orang tua anak itu untuk memberi sekedar ala kadarnya dari Pemda,” ucapnya.

Kadis Diknas bahkan menambahkan, seandainya secara pribadi ekonominya cukup, maka Ia akan mengeluarkan dana pribadinya untuk membantu.

Ungkapan dari sang Kadis tersebut seperti sebuah pengakuan yang cukup menggetirkan. Kepeduliannya ada, tapi masih sebatas di alam pemikiran dan tidak bisa diwujudkan.

Guna mendukung perjuangan Sumarsih ke panggung nasional melalui Program Bina Talenta Indonesia Aceh, maka guru-guru SMP 2 Ladongi berinisiatif mengumpulkan dana secara sukarela untuk uang saku Sumiarsih.

Dan, menjelang keberangkatan, lanjut Suristono, pihak sekolah telah bertemu dengan keluarga Sumiarsih guna menjelaskan kondisi keuangan sekolah dan aturan dana BOS yang ketat.

“Kami pihak sekolah tidak bisa membantu dalam hal itu (biaya). Cari-cari dulu di luar. Nanti akan dikembalikan oleh pemerintah,” ungkapnya.

Suristono menegaskan, meski dengan keterbatasan anggaran, dukungan moral dari para guru tetap menjadi bentuk perhatian sekolah.

Sumiarsih sendiri bukan siswi sembarangan. Ia adalah Juara 1 Lomba Menulis Cerita di ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N). Sebuah ajang kompetisi seni dan sastra tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk mengembangkan potensi dan kreativitas siswa.

Tak hanya itu, ia juga menorehkan sederet prestasi di tingkat provinsi Sulawesi Tenggara, diantaranya, juara 1 Matematika, juara 3 IPS, juara 1 Bahasa Inggris, dan juara 2 Bahasa Indonesia dalam kompetisi Sigma Sains Indonesia, sebuah lembaga penyelenggara olimpiade sains independen berbasis digital yang aktif menggelar lomba daring bagi pelajar di seluruh Indonesia.

Kini, ia menjadi satu-satunya wakil Kolaka Timur yang lolos ke Bina Talenta Indonesia tahun ini. Dari 41 SMP di Koltim, hanya SMPN 2 Ladongi yang berhasil meloloskan siswanya.

“Kami lihat ini peluang untuk mengangkat sekolah. Pokoknya harus daftar,” tegas Suristono.

Di balik semangat gotong royong dari para guru SMPN 2 Ladongi yang mengumpulkan uang saku bagi siswinya seakan-akan jadi “cambuk keras” bagi pemerintah daerah.

Sebab yang seharusnya hadir dan berdiri untuk suatu prestasi pendidikan, justru bersembunyi di balik alasan administratif yaitu ‘efesiensi’ dan ungkapan ‘andai-andai’.

Dan jika kelak nama Kolaka Timur disebut di panggung nasional, maka tentu yang patut dibanggakan adalah mereka, para guru yang menjadi pahlawan kecil dibalik layar.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *