Investigasi.com, Kediri – Pembakaran tiga gerobak yang dilakukan oleh para pedagang kaki lima bersama aktivis LSM Kediri raya mewarnai aksi demo didepan kantor Pemkab kediri dijalan sukarno-Hatta. Kejadian tersebut sebagai simbul kekecewaan mereka karena selama pandemi covid-19 dilarang berjualan di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG), Kamis (14/10/2021) pagi.
Sempat terjadi ketegangan antara pendemo dengan Satpol PP. Berkat gerak cepat dan tindakan yang humanis dari pihak kepolisian maka ketegangan kedua belah pihak bisa direda. Satpol PP diminta masuk didalam gerbang kantor Pemkab sedang yang mengamankan jalannya audisi dari pihak kepolisian.
Untuk mencegah suasana lebih panas beberapa perwakilan dipersilahkan masuk ke dalam gedung DPRD Kabupaten Kediri untuk menggelar audiensi. Namun dalam audiensi bersama wakil rakyat itu tidak ditemukan titik temu.
Setelah itu, massa aksi keluar dan kembali ke tempat demonstrasi untuk melanjutkan orasi dan membakar gerobak tempat berjualan yang disiapkan tepat ditengah jalan depan pintu gerbang kantor Pemkab Kediri.
Usai orasi dan bakar gerobak, peserta demo geser menuju pendopo panjalu hayati di jalan alun-alun timur Kediri. Disana juga terjadi pembakaran satu gerobak jualan tepat didepan pendopo. Karena harapan mereka bisa ketemu sama Bupati Kediri H. Hanindhito Himawan Pramana, S.H tidak terlaksana. Selanjutnya para pendemo bergerak menuju kawawan simpang Lima gumul (SLG). Sesampai di depan Alfamart dan Indomart SLG para aktifis dan PKL langsung berorasi. Untuk menjaga hal yang tidak diinginkan dua toko waralaba berjaringan tersebut langsung ditutup.
Beruntung saja datang Slamet Turmudi sekretaris Satgas Covid Kabupaten Kediri didampingi satu staf dari BPBD menemui pengunjuk rasa di depan tepat Indomart. Sempat terjadi adu argumentasi antara Slamet Turmudi sama korlap demo (Tomi Ariwibowo, Khoirul Anam, Siti Isminah). Mereka tetap minta mulai hari ini, Kamis (14/10/2021) para PKL diijinkan untuk jualan. Slamet Turmudi menerangkan, bahwa pada tanggal 22/10/2021 besuk akan dilakukan uji coba dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat. tetapi ucapnya langsung ditolak oleh pendemo, “apa bedanya harus buka tanggal 22/10/2021 dengan sekarang (14/10/2021),” kata pendemo.

Usai pertemuan dengan para pendemo, Slamet Turmudi langsung ngacir dan menghindar dari wartawan, Dia tidak bersedia memberikan keterangan sepatah katapun dan langsung meninggalkan Indomart dengan dikawal staf BPBD.
Sementara itu Tomi Ari Wibowo, mengatakan bahwa di masa pandemi ini kehidupan keluarga PKL semakin sulit, karena tidak bisa berjualan. Bahkan, banyak yang terpaksa menjual barang-barang di rumah agar bisa menyambung hidup.
“Bahkan utang kami semakin menumpuk. Kami hanya ingin mandiri dan berusaha sendiri dengan cara berjualan di sekitar SLG. Selama ini, akses jalan di SLG kadang ditutup dan kami sering dilarang jualan sama petugas berseragam dari Pemkab Kediri,” ujarnya.
Menurut dia, para PKL seringkali merasa iri dengan adanya minimarket di kawasan SLG yang bisa leluasa berjualan dari pagi sampai malam. Ia menuturkan, barang yang dijual di sana tak jauh beda dengan barang yang diperdagangkan oleh PKL.
“Sebenarnya kami tidak keberatan, tapi tolong kami juga diperbolehkan untuk berjualan seperti mereka (minimarket, istilah Red),” pungkasnya.









