Investigasitimes.com, Koltim – Puluhan masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Adat Tolaki (LAT) melakukan aksi unjuk rasa di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Jumat (11/11/2022).
Aksi demonstrasi dipicu oleh adanya pernyataan Kadis Pendidikan, Herman Amin yang menyatakan, bahwa LAT adalah Lembaga Adat Tertentu (bukan Lembaga Adat Tolaki).
Dalam orasinya jenderal lapangan, Armanto Labirese mengatakan, bahwa ungkapan Lembaga Adat Tertentu bukan hanya sekali diucapkan Herman tetapi secara berulang-ulang dengan gestur yang mengolok-olok LAT.
“Sebagai masyarakat adat ungkapan itu tidak dapat kami terima dan harus dipertanggungjawabkan oleh Herman karena sangat mencoreng nama baik Lembaga kami yang selama ini kami hormati dan junjung tinggi,” katanya.
Armanto meminta agar Herman diberikan sanksi baik sangsi adat dan dicopot dari jabatannya. Karena ucapannya itu dianggap telah meresahkan dan mencederai harmonisasi, dan kebersamaan masyarakat Koltim yang susah payah dibangun selama ini.
Seharusnya Herman, lanjut Armanto dapat memberikan contoh yang baik apalagi dia adalah orang berpendidikan, kemudian juga membawahi dinas pendidikan dan kebudayaan. Artinya, Herman berpendidikan sekaligus berbudaya dan beradab. Tapi ini yang dilakukan sangat kontradiktif dengan apa yang dilakukannya dengan menghina Lembaga Adat Tolaki.

Massa demonstrasi awalnya berkumpul di pertigaan pertamina Kelurahan Rate-rate, Kecamatan Tirawuta. Selanjutnya menuju kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Personil kepolisian maupun TNI tampak bersiaga serta mengawal ketat massa.
Di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan massa sempat melakukan orasi secara bergantian. Bahkan, mereka meneriaki dan meminta Herman untuk keluar ruangan, menemui massa serta memberikan penjelasan terkait ungkapannya.
Sayangnya, Herman tidak berada ditempat. Massa pertama kali diterima oleh Sekdis Pendidikan dan Kebudayaan, Junaidi Madjid. Akan tetapi, massa belum merasa puas karena mereka meminta kehadiran Herman. Asisten III, Laode Ishak juga sempat turun menemui massa akan tetapi sia-sia sebab massa memaksa agar Herman segera dihadirkan.
Selain itu, massa juga meminta Plt. Bupati dan Sekda selaku Jenderal ASN juga bisa hadir di tengah-tengah mereka guna memberikan penjelasan atas tindakan Herman tersebut.
Sampai beberapa menit kemudian Sekda, Andi Iqbal Tongasa berhasil menemui massa. Di hadapan massa, Iqbal menyatakan pada dasarnya sangat menyesalkan dan menyayangkan apabila benar ada ungkapan seperti itu dari Herman selaku Kadis. Apalagi kata-kata itu dapat meresahkan.
“Seharusnya kita menjaga kondusifitas daerah apalagi saat ini ada pameran. Niay pak Bupati bagaimana dengan adanya kegiatan seperti itu maka kita bisa semakin kuat untuk bersama-sama. Tidak ada lagi sekat-sekat,kebencian-kebencian dan lain-lain. Tiba-tiba ada seperti ini kami juga sangat sesalkan. Apa yang menjadi aspirasi hari ini akan saya sampaikan kepada pimpinan (Plt Bupati),” jelas Iqbal.

“Pak Herman saat ini masih berada di Kendari dan akan kami segera panggil. Setelah itu kami juga akan mengundang tokoh-tokoh masyarakat dan pengurus inti Lembaga Adat biar ada penjelasan mengenai hal ini. Kami juga mau dengar klarifikasi beliau (pak Herman) dan apa motivasinya menyampaikan begitu. Terus apa yang akan dilakukan,” sambungnya.
Terkait sanksi, Iqbal menyampaikan kepada massa, bahwa itu semua tergantung (kewenangan) Bupati.
“Kalau sifatnya meresahkan saya pikir pak Bupati akan mengambil keputusan yang terbaik. Sebentar setelah ini saya langsung akan menyampaikan aspirasi teman-teman kepada pak Bupati. Dalam waktu yang tidak terlalu lama kami akan mengambil keputusan dan akan menyampaikan kepada teman-teman,” ungkapnya.
Pernyataan yang disampaikan Iqbal kurang memuaskan massa. Mereka mendesak Sekda agar menghadirkan Herman. Mereka juga memberi waktu kepada Sekda maupun Plt Bupati agar segera mungkin mengambil keputusan tidak lebih dari 1×24 jam. Jika tidak, maka massa mengancam akan kembali turun melakukan aksi secara besar-besaran dengan jumlah yang lebih besar lagi.
Namun setelah kembali diyakinkan oleh Sekda akhirnya massa membubarkan diri sekitar pukul 11.15 WITA dengan tertib dan teratur.








