Investigasitimes.com, Bojonegoro – Petani di wilayah Kec.Malo, Bojonegoro, kondisinya sangat memprihatinkan. Petani di area hamparan sawah seluas 50 hektar lebih itu merugi hingga ratusan juta rupiah. Pasalnya, mereka mengalami gagal panen. Bahkan, dari satu hektar sawah tidak bisa dipanen. Padahal idealnya, satu hektar sawah mampu menghasilkan gabah mulai dari lima sampai tujuh ton gabah per hektar
“Biaya tanam untuk satu hektar sawah itu, mulai dai pengolahan tanah, pengairan, penyemaian, penanaman sampai perawatan dan pemberian obat-obatan, mencapai Rp 10 juta per hektar. Modal itu tidak Kembali karena kami mengalami gagal panen,” tutur salah seorang petani di Desa Ketileng, Solikin (13/09/2023).
Luas hamparan sawah yang mengalami gagal panen, sambung Solikin, mencapai lima puluh hektar lebih. Dengan modal tanam Rp 10 juta per hektar, kemudian dikali 50 hektar area hamparan sawah, maka para petani di wilayah kec.Malo itu sedikitnya mengalami kerugian mencapai Rp 500 juta. Solikin mengungkap, banyak petani yang menggunakan modal tanam dari pinjaman, dan kini kebingungan karena hasil tanam yang nihil.
Petani lainnya, Kumari menuturkan, penyebab gagal panen yaitu perubahan cuaca yang mendadak dan sangat ekstrim. Diceritakan, pada proses pengolahan tanah, penyemaian sampai penanaman padi, terjadi pada cuaca kemarau.
“Akibatnya, tanaman padi tidak berbuah, gabah yang keluar kosong tidak ada berasnya. Akhirnya petani frustasi, padi dipotong untuk pakan sapi dan Petani tidak panen sama sekali,” kata Kumari.
Dengan kondisi tersebut, kata Kumari,’ petani meminta bantuan permodalan kepada pemerintah untuk memulai musim tanam selanjutnya.
“Pihaknya pun meminta pemerintah untuk hadir menyelesaikan persoalan petani yang terjerat hutang di proses tanam sebelumnya yang mengalami gagal panen,” pungkasnya.









