Dari Catatan “Dosa Masa Lalu” Menuju Prestasi, Koltim Perlahan Bangun Nama Baik

Kabupaten Koltim – Ada cara yang lebih kuat untuk mengubah ‘citra buruk’ sebuah daerah, bukan dengan banyak bicara, tetapi dengan menghadirkan kerja nyata dan prestasi yang dapat dibuktikan.

Kamis (24/9/2026) kemarin, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) kembali mencatatkan namanya di tingkat nasional.

Capaian tersebut datang dari kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang berhasil meraih TPID Award 2026 sebagai Kabupaten/Kota Berprestasi peringkat pertama untuk Wilayah Sulawesi.

Penyerahan penghargaan berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, dalam rangkaian Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit and Expo (IFSE) 2026.

Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Dr. (H.C.) Ir. Airlangga Hartarto, M.B.A., M.M.T., dan disaksikan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Jenderal Polisi Purn. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D.

Penghargaan itu diterima Sekretaris Daerah (Sekda) Koltim, Rismanto Runda, S.Sos., M.M., mewakili Bupati Koltim, bersama Plt. Asisten I Setda Koltim, Marwan, S.Sos.

Tentunya, penghargaan ini bukan hanya tentang menerima piala semata. Namun lebih daripada itu adalah tentang perjalanan panjang sebuah daerah dalam membangun pemerintahan dan membangun kepercayaan publik yang lebih baik lagi.

Setiap prestasi dapat menjadi bagian dari proses untuk menunjukkan bahwa Kabupaten Koltim terus bergerak dan berbenah.

Koltim memang memiliki catatan masa lalu yang tidak ringan. Dua bupati Koltim pernah berhadapan dengan perkara korupsi.

Andi Merya Nur ditangkap KPK melalui OTT pada September 2021, sementara beberapa tahun kemudian Bupati Abdul Azis juga ditangkap KPK pada Agustus 2025 dalam perkara dugaan korupsi pembangunan RSUD Kolaka Timur.

Catatan tersebut tentu tidak bisa dihapus begitu saja. Sehingga untuk memulihkan atau mengembalikan nama baik Koltim tidak cukup hanya dengan melalui satu penghargaan, satu kebijakan ataupun satu periode pemerintahan.

Butuh waktu, membutuhkan konsistensi, membutuhkan keberanian untuk berbenah dari dalam. Dan yang paling penting, membutuhkan kerja nyata yang dilakukan secara terus-menerus (berkelanjutan).

Dan, capaian TPID Award 2026 baru-baru ini dapat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari perjalanan panjang daerah ini untuk kemudian bagaimana membangun kembali kepercayaan, memperbaiki tata kelola dan menghadirkan sebanyak mungkin bukti, bahwa pemerintahan daerah mampu bergerak ke arah yang lebih baik.

Prestasi harus menjadi bagian dari budaya baru atau ‘wajah baru’ dalam pemerintahan Koltim. Apabila prestasi demi prestasi terus lahir dari proses pemerintahan yang transparan, profesional dan dapat dipertanggungjawabkan, maka secara perlahan-lahan akan terbentuk persepsi atau citra baru tentang Koltim sekaligus berhasil keluar dari “bayang-bayang” masa lalu.

Pemerintah daerah bersama DPRD, dunia usaha, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan memiliki pekerjaan yang jauh lebih besar yaitu memastikan momentum perubahan ini tidak berhenti pada satu sektor.

Koltim harus terus mencari ruang untuk memicu energi guna menciptakan prestasi baru khususnya penguatan pada sektor-sektor lainnya (dalam bentuk kerja nyata).

Sejarah sebuah daerah ‘ditulis’ oleh keberanian untuk memperbaiki keadaan setelah kesalahan itu terjadi. Koltim memiliki kesempatan untuk menulis “halaman baru” tersebut dengan menunjukkan bahwa pemerintahan yang berjalan hari ini mampu menghasilkan sesuatu yang berbeda, mampu berbenah.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *