Debit Air PDAM Koltim Anjlok 55 Persen, Sejumlah Wilayah Tirawuta Mulai Kesulitan Air Bersih: Saatnya Mengetuk ‘Pintu Langit’ Melalui Istisqa dan Doa Bersama

Kabupaten Koltim – Kemarau panjang mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim).

Debit air baku yang menjadi sumber produksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Koltim terus mengalami penurunan. Terhitung sejak September hingga akhir Oktober 2026, penurunannya telah mencapai 55 persen.

Direktur PDAM Koltim, Jatnur Tomo, mengungkapkan bahwa pada September lalu penurunan debit air masih berada di angka 50 persen. Namun, memasuki akhir Oktober, kondisi tersebut semakin memburuk dengan penurunan mencapai 55 persen.

Menurutnya, hampir seluruh titik sumber air sungai mengalami penyusutan debit akibat kemarau panjang yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

“Dampak penurunan tersebut terlihat pada sejumlah wilayah pelayanan PDAM. Misalnya, di Kecamatan Lambandia, produksi air bersih yang sebelumnya mencapai 10 liter per detik kini hanya tersisa sekitar 5 liter per detik,”kata Tomo.

Meski produksinya turun hingga separuh, lanjut Tomo, kebutuhan pelanggan di wilayah tersebut sejauh ini masih dapat terpenuhi. Hal itu karena jumlah pelanggan relatif sedikit sehingga kapasitas produksi yang tersedia masih mampu mengimbangi kebutuhan distribusi.

Tomo menyampaikan, kondisi berbeda terjadi pada instalasi bak penampungan di Desa Simbune, Kecamatan Tirawuta. Jika sebelumnya mampu memproduksi air hingga 45 liter per detik, kini kapasitasnya merosot menjadi hanya 20 liter per detik. Artinya, terjadi kehilangan debit sekitar 25 liter per detik.

“Penurunan ini mulai dirasakan pelanggan, khususnya di sejumlah wilayah Kecamatan Tirawuta, seperti Desa Orawa jalur sebelah kanan, Desa Woiha, Matabondu, dan Desa Lara,”ujarnya.

Berkurangnya volume air yang diproduksi membuat pasokan kepada pelanggan ikut menyusut. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah penghujung desa atau jauh dari sumber air.

Persoalannya, kebutuhan masyarakat tetap besar, sementara volume air yang dapat didistribusikan semakin terbatas.

Akibatnya, pelanggan di wilayah tertentu harus menghadapi keterbatasan pasokan, bahkan menunggu lebih lama untuk mendapatkan air bersih.

“Kalau habis mati air, masih menunggu waktu dua hari lamanya agar pipa bisa terisi dan memberikan tekanan sehingga air bisa tersalurkan ke rumah pelanggan,” ucap Tomo.

Dijelaskan pula, persoalan distribusi semakin terasa bagi pelanggan yang bermukim di wilayah dataran tinggi. Sementara pelanggan di daerah rendah relatif lebih cepat mendapatkan air karena posisi geografisnya lebih menguntungkan.

“Dulu ketika masih bisa berkapasitas 45 liter per detik, semua kran bisa kita buka bersamaan. Kalau sekarang, pengaturan distribusi harus dilakukan lebih terbatas. Satu pipa saja bisa kita buka, itu pun di daerah rendah. Kalau daerah tinggi, air susah naik. Terkecuali ketika pemakaian berkurang hingga pada tengah malam, baru bisa mendapatkan air,”ungkap Tomo.

Penurunan debit air juga terjadi di Kecamatan Mowewe dan Loea. Namun, sejauh ini belum menimbulkan gangguan pelayanan yang berarti.

Jumlah pelanggan di kedua wilayah tersebut masih relatif sedikit sehingga kapasitas produksi yang tersedia masih mampu memenuhi kebutuhan.

Sekedar informasi, untuk saat ini, jangkauan pelayanan PDAM Koltim baru mencakup empat kecamatan, yakni Lambandia, Loea, Tirawuta, dan Mowewe.

Tomo menyebutkan, hingga akhir Oktober ini belum ada sumber air baku yang benar-benar mengalami kekeringan. Namun, pihaknya mulai mengantisipasi kemungkinan terburuk apabila kemarau panjang terus berlangsung hingga Januari 2027.

Salah satu titik yang berpotensi mengalami kondisi paling kritis adalah sumber air baku di Desa Simbune, Kecamatan Tirawuta, mengingat penurunan debitnya sudah cukup signifikan.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi PDAM Koltim. Sebab, ketika debit air terus menyusut, persoalan bukan hanya menyangkut kemampuan produksi, tetapi juga bagaimana menjaga agar distribusi tetap menjangkau seluruh pelanggan secara merata.

Di tengah kemarau yang berkepanjangan, ketersediaan air bersih pun semakin bergantung pada sisa kapasitas sumber air baku.

Bagi pelanggan di wilayah rendah, air mungkin masih bisa mengalir. Namun bagi masyarakat di wilayah ketinggian dan penghujung jaringan, menunggu hingga dua hari untuk mendapatkan air bersih mulai menjadi kenyataan.

Di tengah kemarau panjang yang terus menggerus ketersediaan air bersih, kondisi ini mungkin juga bisa menjadi momentum untuk mengetuk kesadaran Pemerintah Daerah Kolaka Timur bersama para pemuka agama agar menginisiasi pelaksanaan Salat Istisqa atau salat meminta hujan.

Ikhtiar menjaga ketersediaan air bersih tentu perlu dibarengi dengan ikhtiar spiritual kepada Tuhan Yang Maha Kuasa (jalur langit).

Ketika sumber-sumber air mulai menyusut dan masyarakat menghadapi keterbatasan pasokan, doa dan kebersamaan seluruh elemen daerah menjadi bagian dari harapan agar hujan segera turun dan kemarau panjang berakhir.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *