Investigasitimes.com, Koltim – Semak belukar begitu riang gembira merangsek memasuki sela-sela beton tembokmu. Cat merah putih yang pernah menjadi simbol estetikamu pun kian memudar. Engkau kini seolah-olah telah terlupakan seiring berjalannya waktu.
Begitulah gambaran atau kondisi dari Tribun Lalingato saat ini. Sebuah bangunan yang dibuat dengan menggunakan anggaran APBD dengan nilai miliaran rupiah.
Dinamakan tribun Lalingato sebab tepat berdiri di Desa Lalingato, Kecamatan Tirawuta, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Dulunya, tribun ini merupakan sebuah lapangan sepakbola. Namun, oleh kebijakan pemerintah daerah setempat kala itu, lapangan itu pun kemudian “disulap” menjadi sebuah tribun. Dengan harapan dapat menjadi pusat pelaksanaan kegiatan penting bagi pemerintahan daerah.
Pada tahun 2021 lalu, tribun ini dipergunakan sebagai tempat untuk pelaksanaan upacara peringatan HUT Koltim yang ke-8.
Tahun 2022 masih dipakai untuk pelaksanaan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-77. Terakhir, tahun 2023 tepatnya tanggal 10 November digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara peringatan hari Pahlawan ke-78. Dan itu,
Setelah itu, sepertinya adalah moment atau lembaran kenangan terakhir dari penggunaan tribun Lalingato untuk kegiatan-kegiatan dari pemerintahan daerah Koltim.
Memasuki tahun 2024 hingga sekarang ini, tribun Lalingato sudah tak lagi dipergunakan. Pemerintah daerah yang berada ditangan Abdul Azis selaku Bupati lebih cenderung “menggeser” area pelaksanaan kegiatan-kegiatan kedaerahan. Baik itu pelaksanaan HUT Koltim, HUT Kemerdekaan RI, maupun untuk pelaksanaan peringatan hari Pahlawan.

Tribun Lalingato bak pepatah “habis manis sepah dibuang”. Kondisinya sangat memperihatinkan. Semak belukar begitu bebas merembet ke sela-sela dinding pagar tembok pembatas yang terbuat dari beton. Bahkan sebagian dari semak belukar tersebut telah berhasil mengitari pagar utama tribun yang terbuat dari bahan besi stainless.
Rerumputan tampak tumbuh subur hingga nyaris menutupi keseluruhan halaman tribun. Plafon tribun yang pernah menaungi para tamu undangan maupun eselon II telah banyak bocor.
Sebagian tiang depan tribun sudah ditumbuhi lumut. Pintu pagar tribun sebelah timur juga terlihat sudah rusak dan sengaja dibiarkan bersandar begitu saja di dinding pagar.
Parahnya lagi, tanah timbunan yang dibuang di halaman tribun dibiarkan menumpuk begitu saja sampai-sampai terselip rumput liar. Bendera background merah putih pada tribun yang pernah terpasang kini sudah usang,lapuk bahkan sobek.
Kendatipun dalam kondisi demikian, tribun Lalingato tak tersentuh oleh kepedulian pemerintah daerah. Program Jumat bersih yang dicanangkan Abdul Azis selaku Bupati Koltim bersama kekuatan OPD-nya terkesan tak “berpihak” pada tribun Lalingato.
Program Jumat bersih ala Abdul Azis kencenderungannya hanya memprioritaskan pada area luar lingkungan perkantoran pemerintah daerah atau tepatnya wilayah ibukota. Sebab, tribun Lalingato yang menjadi bagian dalam lingkaran lingkungan pemerintah daerah itu sendiri sama sekali belum terjamak dengan bijak.
Tribun Lalingato nasibmu kini. Keberadaan mu sebagai aset daerah nyaris sudah tak terhitung lagi. Rerumputan liar dan semak belukar adalah teman sejatimu saat ini.









