Investigasitimes.com, Koltim – Pembangunan jembatan beton Desa Lere Jaya,Kecamatan Lambandia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) sampai dengan satu hari memasuki batas kontrak tak jua kunjung rampung dikerjakan. Padahal anggaran dari kegiatan sudah dicairkan hingga 100%.
Hasil pemantauan di lokasi jembatan beton bersama Ketua LSM Barisan Rakyat Anti Korupsi (BARAK) Koltim, Beltiar terungkap jika pekerjaan yang bernilai Rp.682.363.000 itu progresnya diperkirakan baru mencapai 30%.
Abutment atau kepala jembatan sebagai penahan tanah dan pemikul beban belum sepenuhnya tuntas dikerjakan.Lebih-lebih pada struktur atas jembatan salah satunya plat lantai atau bridge deck sama sekali belum dikerjakan.
Tak satupun pekerja jembatan terlihat bekerja. Beberapa sisa material jembatan masih bertumpuk di sana seperti pasir (diperkirakan satu ret),beberapa potongan besi ulir,kayu berbentuk balok dan kayu kaso.
Mesin molen maupun pompa air terlihat masih berserakan disekitar lokasi pekerjaan jembatan. Sementara tumpukan material batu gunung sama sekali habis.
Darwis, salah seorang warga yang melintas menyampaikan, sudah kurang lebih sekitar 20-an hari tidak ada aktifitas (pekerjaan) di jembatan beton.

“Kalau diliat papan proyeknya sudah mau habis,tapi entah kenapa sampai sekarang belum juga selesai dikerjakan. Mungkin lari mi karena kenapa tidak ada lagi orang kerja. Pekerjanya dari Pondidaha. Kata pemborongnya itu hari panjang jembatan beton yang dikerjakan sekitar 13 meter,” ucap Darwis.
Darwis awalnya merasa sangat senang ketika dibangun terbangun jembatan beton Lere Jaya, menggantikan jembatan kayu kelapa. Sebab ia maupun petani lainnya tidak kesusahan lagi melintas menuju areal persawahan.
Sepertinya halnya masa panen dan pengangkutan gabah juga dirasakan mudah lantaran truk pengangkut gabah maupun alat gerandong sudah dapat melintas sampai ke lokasi persawahan.
Sementara waktu,para petani Desa Lere Jaya terpaksa menggunakan jembatan kayu darurat dengan kelebaran satu meter lebih. Jembatan ini dibuat swadaya dan dirancang hanya untuk dilalui sepeda motor.
“Kalau kondisi begini jembatannya (jembatan kayu) agak susah lewat pak. Untung bukan musim hujan, seandainya musim hujan maka sungai kecil ini (dibawah jembatan kayu) akan banjir. Jangankan membawa gabah, sepeda motor saja susah lewat,” ujarnya.
Para petani sawah yang melintas di jembatan kayu ini dirundung kekhawatiran. Apalagi telah ada petani yang terjatuh ke sungai waktu melintas.

“Ada pernah anggota jatuh dibawah (sungai) waktu angkut pupuk dua sak. Waktu orang masih kerja jembatan.Jatuh bersama motornya di sungai,” kata Darwis.
Para petani Desa Lere Jaya berencana akan turun ke sawah pada bulan Desember mendatang. Itupun kalau pasokan air cukup tersedia.
Kepala BPBD Koltim, Dewa Made Ratmawan ketika dikonfirmasi melalui telepon tidak berhasil. Meskipun aktif, namun ia tidak mengangkatnya.
Berdasarkan papan informasi proyek yang menempel di pohon (sekitar pembangunan jembatan beton), proyek swakelola BPBD ini mulai dilaksanakan pada tanggal 22 Mei dan berakhir tanggal 19 November 2023.
Adapun Surat Perintah Kerja (SPK)-nya bernomor:362/02/SPK/SWKL/BPBD/V/2023. Anggaran pembangunan jembatan beton yang digunakan adalah dari Belanja Tak Terduga (BTT).
Terkait pembangunan jembatan beton Lere Jaya diperoleh informasi dari toko bangunan di Kecamatan Lambandia bahwa upah sopir yang mengangkut material ke jembatan beton sampai dengan pukul 14.00 WITA belum dibayarkan. Begitu halnya dengan beberapa tunggakan bahan bangunan yang digunakan. Totalnya mencapai 21.740.000.









