Investigasitimes.com, Koltim – Seorang netizen berakun Wahyuni Fitriani mengaku malas untuk mudik ataupun pulang kampung ke Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) apalagi harus melintas di jalan poros Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim).
Sepertinya ia mengalami traumatik, ataupun memiliki kisah (pengalaman) pahit saat melintas di jalan poros Ladongi dengan kondisi yang sangat memperihatinkan.
Bahkan diungkapkan bahwa, dengan kerusakan jalan tersebut dapat membuat baut motor terasa mau lepas (longgar). Selain itu pula, membuat seluruh badannya terasa sakit serasa habis digebukin orang satu kampung. Tetapi yang tatkala hebatnya lagi yakni kandungannya sempat sampai turun ketika melakukan perjalanan ke jalur itu.
“Sudah ini mi yg bkin malas mudik atw pulang kampong klo ada acara keluarga dan yg lain nya.jalan nya bisa bikin motor lepas” baut nya,bisa bikin badan sakit semua kaya habis di gebukin orang sekampung🤣 dan yg lebih hebat lagi itu jalan dia bikin turun kandungan ku. sampe harus di urut perut ku😡 mantap lah pokonya ini jalan🤦🏻♀️,” demikian diungkapkan akun Wahyuni Fitriani menanggapi foto dan caption akun Rustam Ependi Rusli yang diberi judul SIRKUIT TRAIL
KEC. LADONGI
KOLAKA TIMUR
SULAWESI TENGGARA
Rustam Ependi sendiri membagikan postingannya itu beberapa hari yang lalu dan dibanjiri hujan komentar.
Bahkan, ada netizen yang sampai berkomentar, semenjak menginjakan kaki di bumi Kolaka Timur pada 10 tahun yang silam, kondisi jalan poros Ladongi-Welala sampai hari ini masih begitu-begitu saja (tidak ada perubahan).
Ada yang berasumsi bahwa kondisi jalan yang di posting Rustam Ependi Rusli sangat cocok untuk ditanami padi. Ada netizen yang menghumor agar memanggil ibu Ida (dari Dayak) supaya jalannya bisa lurus (membaik). Adapula seorang netizen yang menyahut, sekalipun dipanggil ibu Ida Dayak jika jalannya dalam kondisi tidak normal maka dipastikan menyerah.
Pantauan media ini, memang tak dapat dipungkiri, kondisi jalan poros Kecamatan Ladongi (sampai ke Kelurahan Welala) dalam kondisi rusak.Bergelombang (bagaikan rak telur) dan berlubang.
Manakala musim hujan tiba, air menggenang di lubang jalan. Sementara, ketika musim kemarau datang maka debu ramai berterbangan. Tentu hal ini dapat mengancam atau mengganggu kesehatan bagi warga yang bermukim disekitar jalan poros. Terutama bagi anak-anak maupun warga yang sudah berusia lanjut.
Disamping itu, tentunya juga tak baik bagi kesehatan para pengguna atau pengendara khususnya roda dua yang acapkali melintas dijalan rusak tersebut









