Workshop Tata Kelola Kesenian Daerah: Sebagai Pengembangan Warisan Untuk Generasi ke Depan

Investigasitimes.com, Koltim – Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) merupakan salah satu dari 17 kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang terdiri dari 118 desa dan 16 kelurahan yang tersebar di 12 kecamatan.

Secara geografis, wilayah Koltim memiliki luas 3.992,53 km2. Didiami oleh lima etnis (suku) lokal yakni Tolaki, Bugis, Jawa, Muna dan Bali. Yang mana, keberagaman suku tersebut menjadikan Kabupaten Koltim kaya dengan nilai budaya lokal yang sangat luhur dan tak ternilai harganya.

Sebagai kabupaten yang memiliki keanekaragaman budaya khas serta kebudayaan lokal yang masih kental dan terlestari, maka tentu memerlukan penataan dan pengembangan lebih lanjut.

Apalagi kebudayaan lokal (termasuk kesenian tradisional maupun berbagai karya cipta di bidang kesenian) ialah jati diri atau identitas daerah yang juga dapat menjadi satu penyeimbang pembangunan infrastruktur dan pembangunan karakter kebangsaan.

Perkembangan dan kemajuan teknologi komunikasi serta derasnya perkembangan global menjadi ancaman kuat terhadap kebudayaan lokal. Sehingga perlunya “benteng pertahanan” agar tidak punah dan dapat menjadi warisan bagi generasi ke depan.

Salah satu upaya dilakukan Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Koltim yakni dengan melaksanakan workshop tata kelola kesenian daerah, pada Rabu (6/9) di Baros Farm House,Desa Tawainalu, Kecamatan Tirawuta. Kegiatan dibuka langsung oleh Plt. Dikbud Koltim,Syarif SPd MSi. Dengan menghadirkan pemateri dari Dikbud Provinsi Sultra, Dr Suhida.

Dalam penyampaian laporannya, Ketua panitia penyelenggara workshop, Andi Muchtar Syamsuddin bahwa tujuan dilakukan kegiatan tersebut adalah upaya untuk mendorong atau memajukan sanggar seni yang ada di Kolaka Timur, dan mampu menumbuhkan rasa kecintaan semua pihak terhadap seni dan budaya.
Kabid Kebudayaan Dikbud Koltim ini pula berharap agar peserta sanggar seni dapat mengikutinya dengan baik.

Plt. Dikbud Koltim, Syarif mengungkapkan, bahwa masyarakat Koltim adalah masyarakat majemuk (berbagai ras,suku,agama). Dengan keberagaman yang ada, perlu adanya sinergitas untuk bersama-sama membangun daerah, salah satunya yakni dengan memajukan dan memacu kesenian lokal.

“Mari kita majukan kesenian daerah kita. Mari terus berpacu untuk mengembangkan sumber daya yang kita miliki. Trend saat ini harus dapat membuka diri kita terhadap perubahan-perubahan yang ada.Jangan menutup diri karena itu akan membuat kita tertinggal serta membuang setiap peluang,” kata Syarif.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) ini pula menjelaskan, workshop yang dilaksanakan ini merupakan kegiatan pertama kali sekaligus langkah awal dalam menumbuhkembangkan potensi kesenian di Kolaka Timur.

“Sanggar seni yang ada sekiranya dapat menginspirasi kami untuk menyampaikan kepada pimpinan agar kesenian budaya daerah yang ada saat ini bisa kita perkenalkan, kita budayakan atau kita lestarikan (dikembangkan) sehingga dapat pula menjadi warisan bagi anak cucu kita ke depan,” ujarnya.

“Sekecil apapun kontribusi kita sangat berperan dalam memajukan daerah kita. Disitulah amal kebaikan kita dalam membangun daerah. Kembangkan kesenian daerah kita sehingga bisa menjadi sumber utama guna mendorong ekonomi budaya kemasyarakatan. Saya juga mengharapkan mari kita menjaga dan saling melengkapi dari keragaman yang ada, senantiasa menjaga keamanan dan ketertiban. Siapa lagi kalau bukan kita semua,” tambah Syarif.

Sementara itu, Dr Suhida dalam materinya menjelaskan dalam era persaingan global ini, wadah seni menjadi penting bukan
hanya sebagai tempat seni tetapi juga sebagai ruang edukasi serta tempat
berkumpulnya sekelompok orang atau masyarakat.

Organisasi kesenian merupakan sistem pengelolaan yang mengutamakan sistem nilai dan menekankan pada Sumber Daya Manusia (SDM).

Dikatakan, untuk menghasilkan organisasi seni yang terbaik, maka harus diawali dengan perencanaan matang yang berbasis pada publik (audiens),dan nilai. Artinya, seni yang dihadirkan menarik dan relevan dengan situasi pentas. Berikutnya, ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai salah satu aset organisasi diberdayakan dengan merancang strategi yang sesuai dengan misi ke depan.

Lebih lanjut disebutkan, pengelolaan sanggar meliputi kegiatan administrasi, pembelajaran, ujian praktik
pentas seni, perekrutan siswa dan perlengkapan fasilitas. Di dalam manajemen sanggar terdapat fungsi manajemen yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuacting) dan pengawasan (controlling).

“Manajemen sanggar yang baik memiliki indikator–indikator diantaranya keberhasilan dalam mempertahankan dan memajukan sanggar. Keberhasilan dalam menjaring siswa atau anggota. Keberhasilan dalam prestasi yang diperoleh. Dapat menonjolkan produk sanggar kepada masyarakat. Serta dapat diterima oleh masyarakat,” ucapnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *