Mengapa Koltim Jadi Incaran Figur dari Luar Daerah? Ada Apa di Balik Perebutan Kursi 02?

Ilustrasi

Kabupaten Koltim – Menjelang wacana Pemilihan Wakil Bupati (Pilwabup) Kolaka Timur (Koltim), sejumlah figur kini mulai menebar pesona dan membangun komunikasi politik untuk memperebutkan kursi 02 Koltim.

Tak hanya nama-nama yang selama ini dikenal di daerah, figur dari luar Koltim pun mulai ikut melirik dan menunjukkan ketertarikannya untuk masuk dalam bursa.

Fenomena ini tentu menarik untuk dicermati. Sebab Koltim bukan daerah yang kekurangan sumber daya manusia. Di dalam tubuh partai politik pengusung, PAN dan NasDem, maupun di tengah masyarakat sendiri terdapat sejumlah kader dan figur lokal yang memiliki pengalaman politik, pemerintahan, organisasi dan dianggap memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat.

Lantas, mengapa figur dari luar daerah ikut melirik?

Pertanyaan ini semakin relevan, karena Koltim bukan lagi kabupaten baru yang sedang mencari ‘bentuk’. Kabupaten ini resmi terbentuk pada 15 Mei 2013 berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2013.

Artinya, pada 2026 ini Koltim telah berusia sekitar 13 tahun.

Dalam rentang waktu tersebut, Koltim sudah melewati berbagai fase pembangunan dan politik. Masyarakatnya tentu semakin matang dalam menilai siapa yang layak dipercaya mengisi ruang kepemimpinan daerah.

Karena itu, munculnya figur-figur dari luar daerah dalam bursa 02 patut dilihat bukan sekedar sebagai dinamika politik biasa.

Ada pertanyaan yang lebih besar, sebenarnya apa yang membuat Koltim begitu menarik?

Apakah karena peluang politiknya?
Ataukah karena posisi Wakil Bupati dipandang sebagai pintu masuk menuju panggung kekuasaan yang lebih besar?

Atau jangan-jangan ada daya tarik lain yang tidak semata-mata berkaitan dengan politik?

Koltim memang memiliki modal ekonomi yang tidak kecil. Dokumen perencanaan daerah menyebut pertanian, perkebunan, pariwisata, perikanan dan pertambangan sebagai sektor yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Bahkan kawasan pertanian Koltim dalam dokumen RKPD 2026 tercatat sekitar 57.495 hektare, sementara kawasan tanaman pangan mencapai sekitar 28.568 hektare.

Di sisi lain, dokumen perencanaan daerah juga mencatat adanya potensi mineral logam seperti emas dan nikel.

Dari sudut pandang politik dan ekonomi, keberadaan sumber daya alam serta kawasan pertanian yang luas tentu membuat Koltim mempunyai nilai strategis.

Menjadi Wakil Bupati bukanlah “eksperimen” politik. Koltim bukan pula “laboratorium” tempat seseorang datang untuk sekedar mencoba kemampuan memimpin daerah. Bukan pula panggung untuk membangun popularitas sebelum melangkah ke arena politik yang lebih besar.

Kursi 02 adalah bagian dari pemerintahan daerah. Wakil Bupati memiliki posisi strategis dalam membantu Bupati menjalankan pemerintahan, pembangunan, pelayanan publik dan pembinaan masyarakat.

Karena itu, jika ada figur dari luar daerah yang ingin maju, pertanyaan masyarakat sederhana dan mendasar yaitu, apa yang akan diberikan kepada Koltim?

Pertanyaan tersebut penting karena masyarakat Koltim sendiri memiliki banyak putra-putri daerah yang selama ini berproses di dunia politik, pemerintahan, organisasi dan kehidupan sosial masyarakat.

Jika partai politik pengusung memiliki kader lokal yang memenuhi syarat dan memiliki kapasitas, mengapa harus selalu melihat keluar. Apakah kader lokal (putra-putri Koltim) dianggap belum mampu dan dipercaya untuk mengelola daerahnya sendiri?

Ataukah politik hari ini justru sedang menunjukkan bahwa untuk mendapatkan posisi strategis di Koltim, seseorang harus memiliki kekuatan dari luar?

Politik lokal seharusnya tidak hanya berbicara tentang siapa yang paling kuat secara jaringan, siapa yang memiliki modal politik paling besar, atau siapa yang paling banyak dikenal.

Politik seharusnya juga memberi ruang bagi kader yang lahir, tumbuh dan berproses bersama masyarakat.

Inilah yang seharusnya menjadi bahan perenungan partai politik dan masyarakat.
Koltim sudah 13 tahun. Sudah waktunya daerah ini tidak hanya menjadi objek perebutan kepentingan politik, tetapi menjadi ruang bagi lahirnya kepemimpinan lokal yang matang. Putra-putri daerah yang selama 13 tahun terakhir telah tumbuh, berproses dan memahami denyut kehidupan masyarakatnya sendiri.

Kalaupun figur dari luar daerah akhirnya masuk dalam bursa Pilwabup, tentu tidak ada yang salah sepanjang prosesnya sesuai aturan dan figur tersebut benar-benar memiliki kapasitas serta komitmen membangun Koltim.

Pada akhirnya, masyarakat Koltim tidak membutuhkan pemimpin yang sekedar tertarik kepada Koltim. Koltim membutuhkan pemimpin yang benar-benar mencintai Koltim.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *