Investigasitimes.com, Kabupaten Tuban – Polemik pertambangan batu bara ilegal di Kecamatan Jatirogo memasuki babak baru yang semakin panas. Mansur, pria yang tengah menjadi sorotan karena diduga kuat mengelola tambang ilegal di Desa Ngepon Kecamata Jatirogo, justru tampil agresif dengan menyeret nama Joko warga Desa Kebon Agung, sebagai aktor lain yang diklaim ikut bermain dalam bisnis gelap tersebut.
Melalui selulernya, Mansur yang juga menjabat sebagai Kepala Desa (Kades) Ngepon tanpa ragu menuding bahwa aktivitas tambang tanpa izin tidak hanya berlangsung di Desa Ngepon, tetapi juga di Desa Kebonagung Kecamatan Bancar, yang disebutnya dikelola oleh Joko. Tudingan blak-blakan ini sontak memantik spekulasi bahwa tengah terjadi perang kepentingan di balik operasi tambang ilegal yang selama ini diduga berjalan licin di Bancar.
“Kalau mau bicara tambang ilegal, jangan cuma Ngepon yang disorot. Di Kebon Agung itu juga ada kegiatan yang diduga kuat dikelola Joko,” kata Mansur dalam keterangannya kepada wartawan.
Pernyataan tersebut memunculkan dugaan bahwa Mansur tengah mencoba mengalihkan sorotan dari kasus yang kini menjeratnya. Namun apa pun motifnya, pengakuan terbuka itu seolah mengonfirmasi bahwa jaringan tambang batu bara ilegal di Kecamatan Jatirogo tidak berdiri sendiri. Ada banyak nama, banyak titik, dan diduga telah beroperasi dengan pola yang rapi.
Warga pun menilai bahwa apa yang disebut Mansur hanyalah “jalan buntu” yang tiba-tiba terbuka. “Kalau mereka saling tuding, berarti memang ada banyak pemain. Selama ini masyarakat hanya melihat truknya lewat, tapi tidak tahu siapa aktornya,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Sumber internal di lapangan juga melihat pernyataan Mansur sebagai sinyal bahwa tambang ilegal di Ngepon diduga sudah berlangsung lama, dan melibatkan pihak-pihak yang selama ini sulit disentuh.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Joko belum memberikan klarifikasi. Upaya konfirmasi kepada yang bersangkutan masih terus dilakukan.
Aktivis lingkungan mendesak aparat untuk tidak membiarkan perang tudingan ini berkembang tanpa arah.
“Ketika kedua belah pihak saling membuka praktik masing-masing, itu seharusnya menjadi peluang emas bagi aparat untuk mengusut tuntas siapa yang sebenarnya bermain. Publik lelah melihat tambang ilegal seperti tidak tersentuh,” tegas seorang aktivis yang selama ini memantau aktivitas pertambangan di wilayah utara Tuban, (19/11/2025).
Hingga kini, Polsek maupun Polres setempat belum memberikan pernyataan resmi terkait gejolak saling tuding tersebut. Publik menunggu langkah konkret penegakan hukum yang benar-benar tegas dan tidak pandang bulu.









