Kabupaten Koltim – Dari kejauhan, bangunan berukuran sekitar 2,5 meter × 3 meter itu nyaris tak tampak seperti sebuah rumah. Tempat beralas tanah itu lebih menyerupai pondok berteduh sementara.
Atapnya hanya terbuat dari perpaduan terpal dan paranet, sementara dindingnya disusun dari terpal plastik, papan seadanya, serta seng bekas yang mulai berkarat dimakan usia.
Di dalam gubuk sederhana itulah Muhamadiah, seorang lansia berusia 62 tahun, menghabiskan hari-harinya sebatang kara.
Sudah dua setengah tahun ia menetap di kebun milik orang tuanya yang terletak di Desa Wungguloko, Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim).
Tempat ringkih itu menjadi saksi bisu tempatnya tidur, memasak, sekaligus berlindung dari sengatan panas dan guyuran hujan.
Gubuk ini didirikannya dengan sisa-sisa tenaga dan modal seadanya. Sebagian terpal ia beli sendiri, sementara sisanya dipungut dari kebun milik temannya yang sudah terbengkalai.
Jangan bayangkan ada kasur empuk di dalamnya, Muhamadiah hanya mengandalkan selembar tikar tipis sebagai alas melepas lelah.
Tidak ada aliran listrik, apalagi toilet. Ketika matahari terbenam, gubuk tersebut seketika tenggelam dalam gulita malam. Hanya suara alam dan keheningan kebun yang setia menemaninya dalam gelap.
Kehidupan masa lalu Muhamadiah memang penuh liku. Sebelum memilih menetap di kebun Wungguloko, ia sempat menumpang di rumah sepupunya di Kelurahan Atula selama tiga tahun.
Rumah tangga yang pernah dibangunnya pun telah lama kandas tanpa dikaruniai anak. Kini, di usia senjanya, tidak ada lagi pasangan ataupun buah hati tempatnya berbagi cerita.

Untuk menyambung hidup, ia mengandalkan sisa tenaganya dengan menanam tanaman jangka pendek di kebun. Hasilnya jauh dari kata cukup dan tidak menentu, namun dari sanalah ia bertahan dari rasa lapar.
Untuk kebutuhan air bersih, awalnya Muhamadiah harus berjalan memikul dua jeriken dari rumah tetangga.
Beruntung, ada tetangga yang iba dan dengan sukarela membuatkan sumur pompa bor tanpa meminta imbalan sedikit pun.
Bagi orang lain, sebuah sumur bor mungkin hal biasa, namun bagi Muhamadiah, itu adalah berkah luar biasa yang meringankan beban hidupnya.
Muhamadiah baru-baru ini saja resmi tercatat secara administrasi sebagai warga Desa Wungguloko, setelah sebelumnya berstatus warga Kelurahan Atula.
Lebih memprihatinkan, diketahui ternyata Muhamadiah masuk dalam data desil 6–10 (kategori masyarakat yang dianggap mampu/tidak miskin ekstrem secara data).
Muhamadiah mengaku sama sekali belum pernah tersentuh bantuan sosial dari pemerintah, baik saat masih menumpang di Kelurahan Atula maupun selama tinggal di gubuk terpal Desa Wungguloko.
Di balik peliknya garis hidup yang harus ia jalani, lansia 62 tahun ini menyimpan impian yang sangat sederhana.
Bukan rumah mewah yang didambakannya. Namun hanya ingin memiliki tempat tinggal yang layak, sebuah hunian yang mampu melindunginya dari hujan, memiliki cahaya lampu saat malam tiba, serta fasilitas sanitasi dasar yang memanusiakan kehidupannya.
Kini, gubuk kecil berpagar terpal itu tetap berdiri di tengah kebun. Menjadi saksi bisu perjuangan seorang kakek yang teguh bertahan hidup di tengah kesunyian dan luputnya perhatian negara.









