Kabupaten Koltim – Wacana mengenai siapa (figur) yang nantinya bakal menduduki kursi “02” atau Wakil Bupati Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) saat ini mulai ‘hidup’ dari tempat-tempat yang paling sederhana, warung kopi.
Meski obrolan mereka terdengar biasa, namun pembahasannya cukup mendalam. Sebab ternyata tidak hanya berbicara soal politik, akan tetapi sedang membicarakan sebuah harapan murni.
Dari percakapan sederhana itu, muncul satu keinginan kuat yang perlahan menjadi suara bersama bahwa diharapkan figur yang nantinya duduk di kursi “02” dan menggantikan posisi Yosep Sahaka adalah benar-benar berasal dari tanah Koltim sendiri.
Bagi mereka sebagai masyarakat kecil percaya bahwasanya seseorang yang lahir dan tumbuh di Koltim akan lebih memahami bagaimana “denyut” kehidupan masyarakatnya sendiri. Bagaimana Koltim yang sudah menjadi ‘rumah’ bagi mereka harus dapat dijaga bersama.
“Kalau anak daerah Koltim sendiri yang memimpin, tentu lebih mengenali daerahnya maupun masyarakatnya. Mau diapakan kabupaten ini tentu sudah dipahami. Rasa tanggungjawab terhadap daerahnya sendiri sangat besar,” ujar seorang dari mereka dalam obrolan warung kopi tersebut.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu jujur. Karena sesungguhnya mereka tidak sedang mencari pemimpin yang paling hebat berbicara ataupun punya duit dan kekuasaan. Melainkan, pemimpin yang mengerti bagaimana rasanya hidup sebagai masyarakat Koltim.
Sebab bagi masyarakat, memimpin daerah bukan hanya soal kemampuan duduk di kursi pemerintahan, tetapi soal rasa memiliki.
Dan rasa memiliki itu biasanya tumbuh paling kuat dari mereka yang lahir, tumbuh, dan dibesarkan oleh tanahnya sendiri.
Koltim sendiri hingga hari ini masih memiliki banyak tantangan pembangunan. Infrastruktur yang belum merata, penguatan ekonomi masyarakat, pendidikan, kesehatan, hingga masa depan generasi muda masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan pemimpin yang bekerja dengan hati.
Dalam dinamika politik yang berkembang, dua partai pengusung kini menjadi pusat perhatian publik, yakni Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Partai Amanat Nasional (PAN).
NasDem sendiri saat ini memiliki ‘kekuatan’ besar di DPRD Koltim dengan 8 kursi legislatif, sementara PAN memiliki 2 kursi.
Sebagai partai pengusung, kedua partai tersebut tentu akan memiliki peran penting dalam menentukan siapa figur yang nantinya dipercaya mendampingi kepemimpinan daerah.
Dari internal NasDem, terdapat sejumlah figur anak daerah yang memiliki peluang, di antaranya Ketua DPRD Koltim Hj. Jumhani, S.Pd, Ketua Komisi III Irwansyah, S.H., LL.M, Hj. Andi Rasbiatung, S.Si, I Nyoman Darmawan, SH, Irwanto, S.P, Muhtadir, S.I.P, Rumina, S.I.P, Jumrin, hingga Sekretaris NasDem Koltim Ali Topan yang pernah menjadi anggota DPRD PAW periode 2019–2024.
Sementara dari PAN, sejumlah nama seperti Risman Kadir, Santri, Ketua DPD PAN Koltim, Rahmatia Lukman hingga kader senior PAN Andi Musmal juga memiliki ruang yang sama dalam kontestasi nantinya.
Meski belum ada keputusan resmi, masyarakat kini mulai memperhatikan siapa figur yang benar-benar dianggap memiliki kapasitas dan kepedulian terhadap daerah.
Namun di balik semua nama dan dinamika politik itu, rakyat sebenarnya sedang menitipkan harapan yang sederhana yaitu agar kursi “02” tidak hanya diisi oleh orang yang ingin berkuasa. Tetapi oleh orang yang benar-benar ingin menjaga daerahnya dan mencintainya dengan sepenuh hati.
Hari ini, suara itu memang baru terdengar dari warung-warung kopi sederhana.
Namun seringkali, suara rakyat yang paling tulus memang lahir dari tempat-tempat sederhana seperti itu. Mengapa, karena mereka berbicara tanpa kepentingan maupun tanpa pencitraan.
Karena pada akhirnya, rakyat tidak pernah terlalu menuntut banyak. Mereka hanya ingin pemimpin yang ketika melihat Koltim, tidak melihatnya sebagai tempat kekuasaan, namun sebagai rumah yang harus dijaga dan dibangun bersama.








