Investigasitimes.com, Koltim – Masyarakat yang mengatasnamakan dari Gerakan Mencari Solusi Terbaik (Gemast) Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) melakukan aksi blokade jalan poros menuju Kecamatan Ladongi-Kecamatan Lambandia, Selasa (6/12/2022) sekitar 09.00 WITA.
Aksi blokade ini merupakan bentuk kekecewaan sekaligus kekesalan warga atas ketidakpedulian pemerintah baik pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, anggota DPRD Kabupaten, anggota DPRD Provinsi Dapil Kolaka Timur atas kerusakan jalan poros Ladongi-Lambandia. Sementara ruas jalur tersebut merupakan akses ekonomi utama bagi warga selama ini.
Aksi blokade menyebabkan kemacetan dari dua arah (Ladongi-Lambandia). Kendaraan roda empat yang dapat melintas dari dinding blokade hanya yang bersifat emergency seperti ambulance atau kendaraan yang bermuatan hasil perkebunan atau pertanian.
Aksi blokade juga diwarnai dengan bakar ban serta orasi secara bergantian. Mereka menyampaikan bahwa pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi,anggota DPRD Koltim maupun anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dapil Koltim hanya bisa tutup mata terhadap kerusakan jalan poros Ladongi-Lambandia.

Berkali-kali warga turun menyuarakan aspirasi perihal kerusakan jalan tersebut tetapi tidak digubris,malah hanya membuai warga dengan janji-janji manis.
Salah seorang orator juga menyampaikan, meskinya sebagai pemerintah daerah yang baru, Plt Bupati Koltim sekiranya dapat membangun komunikasi dengan pemerintah Provinsi. Apalagi Plt Bupati Koltim dinilai sangat dekat dengan Gubernur Sultra, Ali Mazi SH.
“Kasihan masyarakat, apalagi di Koltim ini ada beberapa orang yang duduk di DPRD Provinsi. Ada anggota DPRD Kabupaten dari perwakilan Kecamatan Ladongi dan Lambandia. Kenapa persoalan kerusakan jalan ini tidak bisa diselesaikan. Jangan nanti ada maunya lagi di pilcaleg atau di Pilkada 2024 baru mau datang cari-cari muka lagi kepada masyarakat,” ucap salah seorang orator kesal
Sementara orator lainnya juga menyuarakan bahwa akses jalan yang rusak berat serta berlubang telah mengakibatkan banyak kendaraan terutama roda empat mengalami kerusakan (patah as). Dimusim hujan warga atau pengendara harus melalui jalan berbecek, sedangkan di musim kemarau mereka makan debu.

Hingga dua jam setengah lamanya memblokade jalan, pihak pemerintah (eksekutif) maupun legislatif tak satu pun menampakkan “batang hidungnya” untuk menemui demonstran dan memberikan jaminan perbaikan jalan.
Malahan massa mendapatkan informasi jika Plt Bupati, Abdul Azis sedang berada di Kota Kendari mengikuti Bimtek, Sekda juga sedang tidak berada ditempat, begitu pula dengan anggota DPRD Koltim juga sementara berada di luar daerah.
Meski demikian massa berkomitmen untuk tetap memblokade jalan serta berinisiatif membangun tenda di lokasi blokade sampai ada keputusan perbaikan jalan.
Petugas kepolisian maupun dari TNI mengawal ketat selama aksi blokade berlangsung. Massa menghentikan orasi sementara ketika memasuki waktu sholat Dzuhur telah tiba. Setelah itu mereka akan kembali memblokade jalan.









