{"id":7551,"date":"2026-08-16T11:51:27","date_gmt":"2026-08-16T04:51:27","guid":{"rendered":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/?p=7551"},"modified":"2026-08-16T11:54:00","modified_gmt":"2026-08-16T04:54:00","slug":"sudah-berkali-kali-dilaporkan-judi-diduga-tetap-beroperasi-14-kali-tarung-di-lumajang-aparat-mau-bertindak-atau-hanya-diam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/sudah-berkali-kali-dilaporkan-judi-diduga-tetap-beroperasi-14-kali-tarung-di-lumajang-aparat-mau-bertindak-atau-hanya-diam\/","title":{"rendered":"Sudah Berkali-Kali Dilaporkan, Judi Diduga Tetap Beroperasi: 14 Kali Tarung Di Lumajang, Aparat Mau Bertindak Atau Hanya Diam?"},"content":{"rendered":"<p><strong>Lumajang<\/strong> &#8211; Sungguh terlalu. Ketika masyarakat tengah bersiap menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, dugaan aktivitas perjudian di Dusun Krajan, Desa Dawuhan Lor, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, justru disebut masih berlangsung terang-terangan.<\/p>\n<p>Informasi yang diterima redaksi menyebut aktivitas tersebut tidak hanya berupa sabung ayam. Tajen, sabung ayam Bangkok, dadu hingga capjikia disebut ikut mewarnai aktivitas perjudian di lokasi tersebut.<\/p>\n<p>Yang lebih mencengangkan, pada 16 Agustus 2026, sehari menjelang peringatan HUT RI, arena tersebut disebut kembali menggelar pertarungan hingga 14 kali.<\/p>\n<p>Pagi hari disebut diawali dengan sabung ayam pisau atau tajen. Setelah itu, aktivitas berlanjut pada siang hari dengan sabung ayam Bangkok yang dikenal dengan istilah tegel.<\/p>\n<p>Jika informasi tersebut benar, maka kondisi ini bukan lagi persoalan sederhana.<\/p>\n<p>Ini pertanyaan serius tentang wibawa hukum.<\/p>\n<p><strong>Laporan Sudah Masuk, Arena Disebut Tetap Jalan<\/strong><\/p>\n<p>Dugaan aktivitas perjudian tersebut disebut telah berkali-kali disampaikan kepada aparat penegak hukum.<\/p>\n<p>Informasi bahkan disebut telah dilaporkan kepada Kasat Reskrim Polres Lumajang hingga Polda Jawa Timur.<\/p>\n<p>Tidak berhenti di sana, pengaduan juga disebut disampaikan melalui nomor WhatsApp pengaduan Polres Lumajang.<\/p>\n<p>Respons pun telah diterima.<\/p>\n<p>Namun, ketika pada 16 Agustus 2026 aktivitas kembali disebut berlangsung hingga 14 kali tarung, publik tentu bertanya:<\/p>\n<p>Apa sebenarnya yang terjadi?<\/p>\n<p>Apakah laporan masyarakat sudah benar-benar ditindaklanjuti?<\/p>\n<p>Apakah aparat sudah melakukan pengecekan langsung?<\/p>\n<p>Jika sudah dilakukan pengecekan, apa hasilnya?<\/p>\n<p>Dan apabila ditemukan dugaan tindak pidana perjudian, mengapa penindakan belum terlihat?<\/p>\n<p>Pertanyaan-pertanyaan tersebut wajar muncul karena masyarakat bukan hanya membutuhkan jawaban bahwa laporan telah diterima.<\/p>\n<p>Masyarakat membutuhkan tindakan nyata.<\/p>\n<p><strong>Jangan Sampai Judi Lebih Berani Daripada Aparat<\/strong><\/p>\n<p>Apabila benar arena tersebut dapat menggelar pertandingan berkali-kali dalam satu hari, maka muncul pertanyaan yang jauh lebih besar.<\/p>\n<p>Siapa yang merasa begitu aman hingga berani menjalankan aktivitas tersebut berulang kali?<\/p>\n<p>Sebab, perjudian dengan dugaan sabung ayam, tajen, dadu dan capjikia bukanlah aktivitas yang secara logika dapat berlangsung tanpa melibatkan banyak orang.<\/p>\n<p>Ada pemain, penonton, taruhan, kendaraan, ayam aduan dan aktivitas lain yang menyertainya.<\/p>\n<p>Karena itu, apabila benar kegiatan tersebut berlangsung secara terbuka, sangat wajar jika masyarakat mempertanyakan sejauh mana pengawasan aparat di wilayah tersebut.<\/p>\n<p>Jangan sampai masyarakat justru mendapatkan kesan bahwa perjudian lebih berani daripada aparat penegak hukum.<\/p>\n<p><strong>Nama Oknum Anggota DPRD Ikut Disebut<\/strong><\/p>\n<p>Persoalan semakin sensitif karena arena tersebut disebut warga berkaitan dengan seorang oknum anggota DPRD berinisial SD.<\/p>\n<p>Redaksi menegaskan, informasi mengenai dugaan keterkaitan tersebut belum merupakan fakta hukum dan masih membutuhkan verifikasi serta pembuktian.<\/p>\n<p>Namun, penyebutan nama seorang pejabat publik dalam informasi masyarakat tentu tidak boleh dianggap remeh.<\/p>\n<p>Justru harus ada klarifikasi dan pemeriksaan yang objektif.<\/p>\n<p>Jika SD tidak memiliki hubungan dengan aktivitas tersebut, silakan memberikan bantahan dan penjelasan.<\/p>\n<p>Jika aparat menemukan adanya keterlibatan, maka proses hukum harus berjalan.<\/p>\n<p>Tidak boleh ada perlakuan istimewa hanya karena seseorang memiliki jabatan.<\/p>\n<p>Hukum harus bekerja berdasarkan bukti, bukan berdasarkan siapa yang memiliki kekuasaan.<\/p>\n<p><span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Baca Juga :<\/strong> <a style=\"color: #ff0000;\" href=\"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/judi-diduga-terang-terangan-di-lumajang-sudah-dilaporkan-malah-tetap-jalan-aph-diam-atau-tak-berdaya\/\">https:\/\/investigasitimes.com\/times\/judi-diduga-terang-terangan-di-lumajang-sudah-dilaporkan-malah-tetap-jalan-aph-diam-atau-tak-berdaya\/<\/a><\/span><\/p>\n<p><strong>Masyarakat Jangan Hanya Diberi Jawaban Formal<\/strong><\/p>\n<p>Yang menjadi sorotan adalah respons atas pengaduan masyarakat yang disebut hanya sebatas ucapan terima kasih atas informasi dan janji untuk menindaklanjuti.<\/p>\n<p>Jawaban seperti itu tentu baik sebagai respons awal.<\/p>\n<p>Tetapi ketika masyarakat kemudian menyebut aktivitas yang dilaporkan masih berlangsung, maka pertanyaan berikutnya tidak bisa dihindari:<\/p>\n<p>Tindak lanjutnya mana?<\/p>\n<p>Jika sudah ditindaklanjuti, apa hasilnya?<\/p>\n<p>Jika belum ditindaklanjuti, mengapa?<\/p>\n<p>Dan jika tidak ditemukan pelanggaran, mengapa tidak disampaikan secara terbuka kepada pelapor?<\/p>\n<p>Jangan sampai masyarakat akhirnya merasa bahwa saluran pengaduan hanya menjadi tempat menerima laporan, bukan pintu masuk penegakan hukum.<\/p>\n<p><strong>Hukum Harus Berani Menyentuh Siapa Pun<\/strong><\/p>\n<p>Pemberantasan perjudian seharusnya tidak mengenal kompromi.<\/p>\n<p>Tidak peduli pelakunya masyarakat biasa, orang berpengaruh, pengusaha, tokoh masyarakat, ataupun pejabat.<\/p>\n<p>Jika terbukti melanggar hukum, proses harus berjalan.<\/p>\n<p>Sebaliknya, jika tudingan masyarakat tidak terbukti, aparat juga harus berani menyampaikan hasilnya secara transparan.<\/p>\n<p>Yang tidak boleh terjadi adalah ketidakjelasan.<\/p>\n<p>Sebab, ketika sebuah lokasi disebut berulang kali dilaporkan namun aktivitas kembali muncul, maka kepercayaan masyarakat terhadap aparat bisa tergerus.<\/p>\n<p><strong>Jelang HUT RI, Pertanyaan Besar Kini Ada Di Meja Aparat<\/strong><\/p>\n<p>Sehari menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, masyarakat Lumajang justru disuguhi informasi mengenai dugaan perjudian yang disebut masih berlangsung.<\/p>\n<p>Ironi tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.<\/p>\n<p>Kemerdekaan dan negara hukum seharusnya menghadirkan rasa aman serta kepastian hukum bagi masyarakat.<\/p>\n<p>Karena itu, kini publik menunggu keberanian Polres Lumajang dan Polda Jawa Timur untuk menjawab seluruh tanda tanya tersebut.<\/p>\n<p>Jika benar judi berlangsung, bongkar dan tindak.<\/p>\n<p>Jika tidak benar, buktikan dan jelaskan.<\/p>\n<p>Jika ada pihak yang bermain di belakangnya, ungkap.<\/p>\n<p>Dan jika ada pejabat atau orang berpengaruh yang terbukti terlibat, jangan berlindung di balik jabatan.<\/p>\n<p>Sebab hukum akan kehilangan wibawanya ketika masyarakat melihat dugaan perjudian dapat berulang kali dilaporkan, tetapi aktivitasnya tetap disebut berjalan.<\/p>\n<p>Jangan sampai publik akhirnya bertanya: yang sebenarnya tidak berdaya itu para pelaku judi, atau justru aparat penegak hukum?<\/p>\n<p>Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih membuka ruang konfirmasi dan hak jawab kepada Polres Lumajang, Polda Jawa Timur, pengelola lokasi, serta pihak yang disebut berinisial SD.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lumajang &#8211; Sungguh terlalu. Ketika masyarakat tengah bersiap menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, dugaan&nbsp;[&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7546,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-7551","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-headline"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7551","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7551"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7551\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7554,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7551\/revisions\/7554"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7546"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7551"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7551"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7551"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=7551"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}