{"id":7354,"date":"2026-07-01T17:24:24","date_gmt":"2026-07-01T10:24:24","guid":{"rendered":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/?p=7354"},"modified":"2026-07-01T17:24:24","modified_gmt":"2026-07-01T10:24:24","slug":"anggaran-kandang-ayam-petelur-bumdes-gabungan-3-desa-di-loea-diduga-membengkak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/anggaran-kandang-ayam-petelur-bumdes-gabungan-3-desa-di-loea-diduga-membengkak\/","title":{"rendered":"Anggaran Kandang Ayam Petelur BUMDes Gabungan 3 Desa di Loea, Diduga &#8220;Membengkak&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kabupaten Koltim<\/strong> &#8211; Program usaha peternakan ayam petelur yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) gabungan tiga desa di Kecamatan Loea, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) diduga terdapat mark up.<\/p>\n<p>Proyek yang menghabiskan anggaran sebesar Rp402.063.000 itu diduga mengalami &#8220;pembengkakan&#8221; anggaran terutama pada pekerjaan pembangunan kandang ayam petelur.<\/p>\n<p>BUMDes gabungan tersebut merupakan hasil kerja sama antara Desa Mataiwoi, Desa Teposua, dan Desa Tinomu. Ketiga desa sepakat mengalokasikan anggaran tahun 2025 untuk membangun usaha peternakan ayam petelur dengan kapasitas sekitar 1.000 ekor, yang dipusatkan di Desa Tinomu.<\/p>\n<p>Berdasarkan informasi yang diperoleh, nilai anggaran sebesar Rp402.063.000 diperuntukkan bagi pembangunan kandang sekaligus pengadaan ayam petelur beserta kebutuhan pendukung lainnya.<\/p>\n<p>Namun, di lapangan muncul dugaan adanya ketidaksesuaian antara penggunaan anggaran dengan kondisi fisik proyek.<\/p>\n<p>Kandang yang saat ini digunakan disebut merupakan hasil renovasi dari kandang sapi yang telah ada sebelumnya, bukan sepenuhnya pembangunan kandang baru sebagaimana dipersepsikan dalam perencanaan anggaran.<\/p>\n<p>Saat ditemui di kediamannya, Rabu (1\/7\/2026), mantan Ketua BUMDes gabungan, Rosnani, turut membuka gambaran mengenai penggunaan anggaran tersebut.<\/p>\n<p>Rosnani mengungkapkan, seluruh dana sebesar Rp402 juta lebih masuk ke rekening BUMDes gabungan. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp80 juta digunakan untuk pembelian 1.000 ekor bibit ayam petelur di Toko Riko Tani dengan harga sekitar Rp80.000 per ekor.<\/p>\n<p>Selanjutnya, sekitar Rp93,6 juta dipergunakan untuk pembelian pakan ayam selama kurang lebih tiga bulan. Menurutnya, kebutuhan pakan mencapai sekitar dua zak per hari dengan harga sekitar Rp520 ribu per zak, sehingga total kebutuhan selama tiga bulan mencapai sekitar 180 zak.<\/p>\n<p>Selain itu, anggaran juga digunakan untuk pengadaan vaksin yang diperkirakan mencapai sekitar Rp10 juta.<\/p>\n<p>Sementara untuk pembangunan kandang, Rosnani menegaskan bahwa lokasi tersebut sebelumnya telah berdiri kandang sapi yang kemudian direnovasi menjadi kandang ayam petelur.<\/p>\n<p>Di sampingnya memang terdapat penambahan bangunan baru, namun sebagian besar pekerjaan merupakan renovasi terhadap bangunan yang sudah ada.<\/p>\n<p>&#8220;Sudah ada kandang sapi sebelumnya yang kemudian direnovasi menjadi kandang ayam petelur. Memang ada penambahan bangunan baru di sampingnya,&#8221; ungkap Rosnani.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-7356\" src=\"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG-20260701-WA0034-e1782900850299.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" \/><\/p>\n<p>Rosnani mengaku tidak mengetahui secara rinci besaran biaya pembangunan kandang karena sudah tak lagi memegang dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB).<\/p>\n<p>&#8220;Yang mengurus kebutuhan kayu dan pertukangan itu Pak Kades Tinomu sendiri. Saya hanya melakukan pembayaran kebutuhan kayu dan upah tukang. RAB sudah saya serahkan kepada bendahara,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Meski tidak mengingat angka pastinya, Rosnani memperkirakan biaya renovasi kandang beserta ongkos tukang dan kebutuhan pertukangan tidak mencapai Rp200 juta.<\/p>\n<p>Selain menyinggung penggunaan anggaran, Rosnani juga mengungkap alasan dirinya mengundurkan diri dari jabatan Ketua BUMDes, hanya sekitar dua bulan setelah dipercaya memimpin.<\/p>\n<p>Menurutnya, persoalan bermula ketika usaha ayam petelur memasuki masa produksi. Saat itu mulai terjadi perbedaan pandangan terkait pemasaran hasil produksi yang dinilainya terlalu banyak diintervensi oleh Kepala Desa Tinomu.<\/p>\n<p>Rosnani pula mengaku saat itu mengusulkan agar penentuan harga jual telur dibahas terlebih dahulu bersama tiga kepala desa yang tergabung dalam BUMDes.<\/p>\n<p>&#8220;Saya hanya menyampaikan supaya harga telur dirapatkan dulu bersama tiga desa. Karena ada usulan harga Rp47 ribu sampai Rp48 ribu per rak. Kalau dijual Rp45 ribu menurut saya terlalu murah,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Namun usulan tersebut, kata Rosnani, justru memicu ketegangan. Dirinya sampai mendapat teguran dan dianggap tidak konsisten setelah sebelumnya menyetujui harga Rp45 ribu per rak.<\/p>\n<p>Padahal yang dimaksudnya hanya meminta agar apabila harga berubah ke depan, keputusan tersebut dibahas kembali bersama seluruh pihak.<\/p>\n<p>Sejak peristiwa itu, hubungan komunikasi dengan Kepala Desa Tinomu disebut mulai tidak harmonis hingga akhirnya ia memilih mengundurkan diri dari jabatannya.<\/p>\n<p>Saat mengundurkan diri, Rosnani mengungkapkan bila masih terdapat sisa kas sekitar Rp6 juta di rekening BUMDes gabungan.<\/p>\n<p>&#8220;Saya sempat bertanya apakah sisa dana itu akan ditarik, tetapi Pak Desa mengatakan tidak usah karena nantinya akan ditambah lagi,&#8221; tuturnya.<\/p>\n<p>Rosnani juga menyebut sebelum dirinya mengundurkan diri, usaha ayam petelur tersebut telah menghasilkan panen perdana sebanyak sekitar 25 rak telur.<\/p>\n<p>Ditambahkan, berdasarkan porsi penyertaan modal, kontribusi terbesar berasal dari Desa Teposua, disusul Desa Mataiwoi, sedangkan yang paling kecil berasal dari Desa Tinomu.<\/p>\n<p>Hingga berita ini diterbitkan, para kepala desa yang tergabung dalam kerja sama BUMDes tersebut belum memberikan tanggapan.<\/p>\n<p>Kepala Desa Mataiwoi, Putu Indra Aryana maupun Kepala Desa Teposua, Ketut Sudarsana ketika hendak dikonfirmasi belum berhasil. Menurut keterangan keluarganya, keduanya sedang menghadiri acara keluarga di Kabupaten Kolaka.<\/p>\n<p>Begitu pula Kepala Desa Tinomu, Wayan Sudana, hingga berita ini diterbitkan belum berhasil pula dikonfirmasi terkait dugaan mark up tersebut.<\/p>\n<p>Mengingat usaha peternakan ayam petelur ini menggunakan dana penyertaan modal desa, maka perlu dilakukan penelusuran oleh aparat pengawas maupun aparat penegak hukum guna memastikan seluruh proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban anggaran telah berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kabupaten Koltim &#8211; Program usaha peternakan ayam petelur yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)&nbsp;[&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7355,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-7354","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-headline"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7354","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7354"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7354\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7359,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7354\/revisions\/7359"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7355"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7354"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7354"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7354"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=7354"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}