{"id":3720,"date":"2023-10-06T05:25:02","date_gmt":"2023-10-05T22:25:02","guid":{"rendered":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/?p=3720"},"modified":"2023-10-06T05:25:02","modified_gmt":"2023-10-05T22:25:02","slug":"560-hektar-sawah-di-lambandia-puso-ribuan-hektar-lainnya-kekeringan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/560-hektar-sawah-di-lambandia-puso-ribuan-hektar-lainnya-kekeringan\/","title":{"rendered":"560 Hektar Sawah di Lambandia Puso, Ribuan Hektar Lainnya Kekeringan"},"content":{"rendered":"<p><strong>Investigasitimes.com, Koltim<\/strong> &#8211; Kemarau yang melanda belakangan ini menyebabkan 560 hektar (ha) persawahan di Kecamatan Lambandia, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) mengalami puso (gagal panen).<\/p>\n<p>Data dari Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Koltim mencatat, wilayah persawahan Kecamatan Lambandia yang mengalami puso meliputi Desa Bou 308 ha,Desa Lowa 200 ha, Desa Mokupa 10 ha, Desa Lambandia 2 ha, serta Desa Penanggosi 40 ha.<\/p>\n<p>Dampak kekeringan juga menyebabkan sebanyak 1.796,5 ha sawah mengalami kekeringan berat. Jumlah ini tersebar dalam tujuh Kecamatan yang ada di bumi Sorume tersebut. Dan, apabila tidak disikapi, maka juga akan menyebabkan petani sawah &#8220;merintih&#8221; serta mengalami kerugian yang cukup besar.<\/p>\n<p>Tujuh Kecamatan yang dimaksud yakni Kecamatan Ladongi 87 ha, Kecamatan Dangia 369 ha, Kecamatan Lambandia 488 ha, Kecamatan Lalolae 95 ha, Kecamatan Poli-polia 539,5 ha, Kecamatan Aere 135 ha, Kecamatan Tirawuta 83 ha.<\/p>\n<p>Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Koltim, Diman Gading mengatakan, kemarau tahun ini sangat parah bila dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Agak lama dengan intensitas panas yang ada begitu tinggi.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-3722\" src=\"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/IMG-20231005-WA0054-400x250.jpg\" alt=\"\" width=\"400\" height=\"250\" \/><\/p>\n<p>&#8220;Kalau puso yang terjadi di Kecamatan Lambandia itu sebagian besar sudah keluar buah (padi bunting). Sedangkan, ribuan tanaman padi yang mengalami kekeringan berat kebanyakan rata-rata usia tanamannya (padi) satu sampai dua bulan. Jadi kita khawatirkan, apabila tidak terkena air maka bisa menyebabkan kekeringan puso,&#8221; kata Diman saat ditemui dikantornya, Kamis (5\/10).<\/p>\n<p>Pihak Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Koltim sendiri sudah melakukan rapat secara internal mengenai upaya yang akan dilakukan guna mengantisipasi derita para petani sawah. Diantaranya dengan menyiapkan pompa air ataupun penggalian sumur bor.<\/p>\n<p>&#8220;Yang ada sumber airnya kita siapkan pompa, yang tidak ada sumber airnya kita siapkan sumur bor,tapi semua tergantung pimpinan yang akan melakukan koordinasi dengan pihak stakeholder terkait. Untuk persawahan kategori kekeringan berat masih bisa tertolong dengan jalan tersebut (pompa atau sumur bor) manakala hujan memang tidak turun. Sementara persawahan yang sudah puso tergantung dari kebijakan pimpinan,&#8221; tutur Diman.<\/p>\n<p>&#8220;Sebagian besar persawahan memang sudah tidak memiliki sumber air. Ada sungai tapi mengering.Termasuk sumber-sumber air kecil dari gunung juga kering. Jadi memang tidak bisa dipompa.Terkecuali bikin sumur bor,&#8221; sambungnya.<\/p>\n<p>Untuk dampak kemarau baik puso maupun kekeringan berat di wilayah Kecamatan Loea sampai dengan pukul 11.00 WITA masih dalam tahap identifikasi dan verifikasi oleh tim gabungan dari Kecamatan, Babinsa, Lurah\/Desa, serta petugas penyuluh pertanian.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Investigasitimes.com, Koltim &#8211; Kemarau yang melanda belakangan ini menyebabkan 560 hektar (ha) persawahan di Kecamatan&nbsp;[&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3721,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-3720","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-daerah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3720","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3720"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3720\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3723,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3720\/revisions\/3723"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3721"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3720"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3720"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3720"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=3720"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}