{"id":1431,"date":"2021-11-04T14:43:56","date_gmt":"2021-11-04T07:43:56","guid":{"rendered":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/?p=1431"},"modified":"2021-11-04T14:43:56","modified_gmt":"2021-11-04T07:43:56","slug":"tim-pengabdian-uns-mendongkrak-kualitas-dan-kuantitas-dalam-pemberdayaan-industri-rumah-tangga-temboro-herbal-sebagai-minuman-herbal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/tim-pengabdian-uns-mendongkrak-kualitas-dan-kuantitas-dalam-pemberdayaan-industri-rumah-tangga-temboro-herbal-sebagai-minuman-herbal\/","title":{"rendered":"Tim Pengabdian UNS Mendongkrak Kualitas dan Kuantitas dalam Pemberdayaan Industri Rumah Tangga \u201cTEMBORO HERBAL\u201d Sebagai Minuman Herbal"},"content":{"rendered":"<p><strong>Investigasitimes.com, Wonogiri<\/strong> \u2013 Tim Pengabdian Energy Conversion, Combustion and Energy Education (ECCE) Universitas Sebelas Maret melakukan pemberdayaan masyarakat di daerah pelosok Desa Doho Kelurahan Karang Tengah kecamatan Baturetno kabupaten Wonogiri. Pengabdian tersebut diketuai oleh Dr. Eng. Herman Saputro, M.Pd, M.T bersama 4 anggota lainya, yaitu Gusti Fauza, S.T, M.T, Ph.D, Elisa Herawati, S.Si, M.Eng, Ph.D, Catur Sugiarto, S.E, M.S.M, Ph.D, dan Tastaftiyan Risfandy, S.E, M.Sc, Ph.D. Pemberdayaan masyarakat ini berupa inovasi alat pengolahan tanaman herbal untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi minuman herbal.<\/p>\n<p>Saat ini produksi minuman herbal telah memiliki pasar tersendiri dikalangan konsumen meski demikian industri rumah tangga belum mampu memenuhi besarnya permintaan pasar tersebut sehingga diperlukan alternatif inovasi alat yang dapat membantu meningkatkan produksi untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar dengan tetap menjaga kualitas produk.<\/p>\n<p>Gagasan teknologi ini diawali dari keresahan mitra dalam melakukan peningkatan produksi minuman herbal, sedangkan sumberdaya tanaman hermal sudah cukup melimpah. Disisi lain keberadaan pandemi Covid-19 menyebabkan meningkatnya permintaan terhadap minuman herbal berbasis empon-empon.<\/p>\n<p>Masyarakat Indonesia sejak dulu telah memanfaatkan minuman herbal berbasis empon-empon sebagai obat untuk berbagai penyakit. Empon-empon sendiri merupakan rimpang atau rizoma (bahasa latin) yang terdiri dari temulawak, temu putih, jahe, kunyit, kencur, dan sunti.<\/p>\n<p>Kabupaten Wonogiri terkenal sebagai produsen jamu terbesar dengan persebaran 110 usaha jamu, 374 jamu gendong, 7 jamu instan, dan 2 jamu seduh serta 22 jamu tradisional. Satu diantara usaha jamu tersebut adalah Industri Rumah Tangga (IRT)<em> \u201cTemboro Herbal\u201d<\/em> di dusun Joso kelurahan Karang Tengah kecamatan Baturetno kabupaten Wonogiri.<\/p>\n<p>Di masa pandemi ini IRT Temboro Herbal mendapatkan permintaan minuman herbal berbasis empon-empon yang meningkat 10 kalilipat dari produksi normal, namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan alat produksi. Selain permasalah pada alat produksi, IRT Temboro Herbal juga kesulitan dalam menjaga konsistensi kualitas produksi minuman herbal.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-1434\" src=\"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/IMG-20211104-WA0079-400x250.jpg\" alt=\"\" width=\"400\" height=\"250\" \/><\/p>\n<p>Permasalahan tersebut menjadi kendala IRT Tembora Herbal tidak berani menangkap peluang yang ada. Berdasarkan permasalahan tersebut Tim Universitas Sebelas Maret bermaksud membantu IRT Tembora Herbal melalui kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM-UNS) dengan tema Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Produksi Minuman Herbal Berbasis Empon-Empon pada Produksi Industri Rumah Tangga (IRT) Temboro Herbal.<\/p>\n<p>Dukungan tersebut melalui hibah mesin blender dan pengepres khusus tanaman hermal yang higinis untuk skala besar.<br \/>\nInovasi mesin blender dan pengepres ini dikembangkan di bengkel Energy Convertion and Combustion Laboratory (ECCL) Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan melibatkan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Teknik Mesin FKIP-UNS. Desain alat ini mengikuti arahan kebutuhan mitra tentang permintaan alat produksi yang cepat dan higinis. Alat ini menggunakan bahan stainless stell yang tidak mudah berkarat, bersih, dan mudah dibersihkan. Mesin penggerak juga kompetibel dengan arus listrik rendah standar masyarakat, sehingga tidak boros digunakan.<\/p>\n<p>Ketua tim pengabdian Herman Saputro mengungkapkan bahwa, alat ini didesain khusus agar tidak menghilangkan khas bahan baku dari empon-empon, sehingga bahan baku tidak diolah dengan tradisional, khas dari empon-empon tetap ada.<\/p>\n<p>&#8220;Hasil penggunaan alat ini juga lebih halus dan lebih banyak secara kuantitas. Keunggulan alat ini terletak dari bahan yang anti korosi dan hemat listrrik. Dengan alat ini dapat mengurangi tenaga kerja, dan waktu produksi 3x lebih cepat,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Ketua kelimpok indutri rumah tangga, Eko Siswanto menyampaikan bahwa, Kami sangat berterima kasih, dengan alat ini kami dapat meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan konsumen.<\/p>\n<p>&#8220;Tidak lain dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.Selain itu, program ini diharapkan tidak berhenti pada IRT Temboro Herbal saja, kendati di lingkungan desa memiliki banyak keunggulan hayati selain empon-empon yang bisa dikembangkan. Harapan besar, program ini dapat terus berjalan dan bermanfaat lebih luas. Rentetan agenda tersebut ditutup dengan uji coba dari hasil produksi secara langsung, dan serah terima alat secara simbolis,&#8221; tandasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Investigasitimes.com, Wonogiri \u2013 Tim Pengabdian Energy Conversion, Combustion and Energy Education (ECCE) Universitas Sebelas Maret&nbsp;[&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1432,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-1431","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-daerah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1431","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1431"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1431\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1435,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1431\/revisions\/1435"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1432"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1431"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1431"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1431"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/investigasitimes.com\/times\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=1431"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}